Minggu, 15 Oktober 2017

Serat Asmaralaya



Serat Asmaralaya


ana wiku medhar ananing hyang agung
kang nglimputi dhiri
wayangan nya  dumumung neng netranira
bunder nguwung lir sunaring surya nrawung
aran nur muhammad.

Ada Orang Bijak menjelaskan adanya Hyang Agung 
Yang menyelimuti diri 
Gambarannya ada pada Matamu sendiri 
Bentuknya bundar memancarkan sinar surya yang menerawang 
Yang dijuluki Nur Muhammad 

weneh muwus jatining kang murbeng idhup
yaiku pramana
kang misesa ing sakalir
dumuning neng utyaka guruloka.

Memberikan kesejatian dalam hidup 
Yaitu pramana 
Yang menguasai segalanya 
Letaknya ada di guruloka 

iya iku tembung  arab baitul makmur
tandane kang nyata
aneng gebyaring pangeksi
lwih waspada wruh gumlaring alam donya.

Yaitu bahasa Arabnya baitul makmur
Tandanya yang nyata 
Ada dalam gebyar angan-angan 
Lebih waspada tahu gumelarnya alam dunia

mung pramana kang bisa nuntun marang swarga
ana  rupa kadya rupanta priyangga
kang akonus saking kamungsangta wus
saplak nora siwah.

Hanya pramana yang bisa menuntun ke Surga 
Ada bentuk rupa seperti rupa orang 
Yang mengaku dari prasangka 
Yang tidak berbeda satu dengan lainnya

amung mawa caya putih
yaiku aran mayangga seta
ana cahya seta prapta geng sabda
iya iku nur muhammad kang satuhu.

Hanya lewat cahaya putih 
Yang disebut Mayangga Seta
Ada cahaya putih seperti SabdaNya 
Iya itu Nur Muhammad yang sejati

cahya maya maya
jumeneng munggwing unggyaning
tuntung driya anartani triloka
baitul makmur baitul mukharam tetelu.

Cahaya maya-maya (samar-samar) 
Terletak umpama tingkatan 
Dalam indera yang disebut triloka (tiga tempat) 
Baitul makmur baitul mukharam ketiga 

ing baitul muqadas
sumanar prapteng pangeksi
liyepena katon ponang cahya maya
anarawung warna warna wor dumunung.

Di baitul muqadas
Bersinar tanpa henti 
Gambarannya tampak mirip cahaya maya 
Berbaur warna-warna yang ada

nuksmeng cahya kang sajati
ingkang  padhang gumilang tanpa wayangan
langgeng nguwung angebeki buwana gung
mulih purwanira.

Dengan cahaya yang sejati 
Yang terang benderan tanpa halangan 
Langgeng memenuhi buwana yang agung 
Terhadap dirimu

duk durung tumurun maring
ngarcapada awarna warana raga
cahyanipun gumilang gilang nelawung
tanpa wewayangan.

Ketika belum turun 
Ke alam dunia berbentuk raga 
Cahayanya penuh gebyar 
Tanpa bayangan

nelahi sesining bumi
gya tumurun dadya manungsa
marma temtu yen prapta antareng layu
ana cahya prapta.

Memenuhi seisi bumi 
Akhirnya segera turun menjadi manusia
Tentu saja ketika sudah waktunya 
Ada cahaya 

gumilang pindhah angganing
tirta munggwing ron lumbu amaya maya
dyan puniku ciptanen dadya sawujud
lawan sabdanira.

Bersinar berpindah warna 
Air seperti berbentuk samar-samar 
Yaitu cipta yang menjadi satu wujud 
Dengan sabda mu sendiri

kang sinedyan samadyaning
ngen ngenta yekti waluya sampurna
mulya wangsul mring salira numuhun
sabda gaib babar bali angebaki bumi
tribuwana kebak bangkit megat nyawa.

Yang langsung terjadi 
Yang diangan-angankan pasti terjadi sempurna 
Mulia kembali pada dirimu sendiri 
Sabda gaib kembali digelar Kembali memenuhi bumi 
Tribuwana penuh bangkit memisahkan nyawa 


bandingkan dengan 

=======================================

Naskah Serat Asmaralaya 

:: Suntingan teks, terjemahan, dan analisis semiotika

Penulis
Mulyani, Hesti
Pembimbing: Prof.Dr. Rh. Djoko Pradopo

ABSTRACT : THE SÊRAT ASMARALAYA MANUSCRIPT: EDITING OF A TEXT, TRANSLATION, AND SEMIOTICS 


ANALYSIS Piwulang, or Javanese moral teaching, needs greatly to be given to the young generation nowadays. As the next torch of the nation, they need to be armed with strong moral foundations in order not to be easily swayed indecisively into different directions and in order to be able to overcome the various obstacles in life in positive ways. It is therefore considered necessary to conduct research on such moral teaching to offer alternative solutions for the needs of those who will continue the life of the nation and to revive the old Javanese moral teaching contained in the next of Sêrat Asmaralaya. This thesis concerns research conducted to study and dissect in depth the aforementioned text. The initial step taken in the recearch is reading the text for the purpose of a diplomatic transliteration of edition into the nationally used orthography. The results are the edited and translated into Bahasa Indonesia. The data obtained from the edited version are afterwards analyzed by means of Riffaterre’s semiotics, which aims at producing meaning from all the signs found in the text, seeking 

(1) forms indicating indirectness of expression in poetry, 
(2) result of heuristic, and retroactive or hermeneutic readings, 
(3) any matrixes, and variants, and 
(4) hypograms showing intertextual relationship with other works. 

The analysis result in final findings as follows. First, in the matter of indirectness of expression in poetry, displacing of meaning occurs in the form of simile and metaphor, distorting of meaning occurs in the form of ambiguity and contradiction, and creating of meaning occurs in the form of enjambement, rhyme, and couple. Second, the heuristic reading result in a transformation from poetry into prose through paraphrasing while the retroactive and hermeneutic readings result in an elaboration on matters related to man’s ways in facing yhe event of dying. Third, the matrix found is the moral teaching about remember with dying or the consciousness man in the event of his dying, which is, essentially, an event of manunggaling Kawula-Gusti (unification with God), the model is the word Asmaralaya, and the variants are 

(1) éling (remembering) man’s nature as kawula (subject), 
(2) knowing the essence of God, 
(3) endeavoring to be insan kamil, (the ideal man), 
(4) knowing ways of facing death, and 
(5) taking the step leading to and achieving manunggaling Kawula-Gusti , 

there are two hypograms, hypogram potensial one and an actual one, transformed from the basic idea of the teaching about manunggaling Kawula-Gusti elaborated in Wirid Hidayat Jati , Suluk Saloka Jiwa , Suluk Supanalaya, Sêrat Pamoring KawulaGusti , Sêrat Paramayoga, Sêrat Wédhatama, and Al Quran. Key words: Sêrat Asmaralaya, text, piwulang, semiotics xvi

INTISARI : NASKAH SÊRAT ASMARALAYA : SUNTINGAN TEKS, TERJEMAHAN, DAN ANALISIS SEMIOTIKA 


Ajaran moral atau piwulang untuk generasi muda, dewasa ini, sangat dibutuhkan. Mengingat generasi muda sebagai penerus bangsa, dibutuhkan bekal fondasi moral yang kuat agar tidak mudah terombangambing dan dapat mengatasi berbagai macam rintangan hidup secara positif. Dengan kondisi yang demikan itu, dipandang perlu adanya suatu penelitian mengenai ajaran moral atau piwulang yang bertujuan untuk memberikan alternatif pemecahan kebutuhan penerus bangsa, dan mengingat-angkatkan kembali piwulang lama yang dimuat di dalam teks Sêrat Asmaralaya. Tesis ini dilakukan untuk meneliti dan membedah teks tersebut secara mendalam. Penelitian ini diawali dengan membaca teks untuk mengalihaksarakan secara transliterasi untuk terbitan diplomatik. Hasil transliterasi itu dipergunakan untuk membuat suntingan teks. Hasil suntingan teks kemudian diterjemahkan. Selanjutnya, berdasarkan data suntingan teks dilakukan analisis. Analisis yang dipergunakan adalah analisis semiotika Riffaterre, yakni untuk memproduksi arti (makna) tanda-tanda yang ada dalam teks Sêrat Asmaralaya. Untuk hal itu harus diperhatikan langkahlangkah: 

(1) ketidaklangsungan ekspresi puisi, 
(2) pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeneutik, 
(3) pencarian matriks, model, dan varian, dan 
(4) hipogram (hubungan intertekstual). 

Hasil akhir penelitian ini adalah pertama, dalam ketidaklangsungan ekspresi puisi, ditemukan adanya penggantian arti berupa simile dan metafora; dalam penyimpangan arti ditemukan ambiguitas dan kontradiksi; dalam penciptaan arti ditemukan enjambement, sajak, dan pembaitan. Kedua, dari pembacaan heuristik dihasilkan penaturalisasian bahasa puisi menjadi bahasa prosa (parafrase), sedangkan dari pembacaan retroaktif atau hermeneutik, dihasilkan uraian tentang hal-hal yang berhubungan dengan cara-cara manusia dalam menghadapi sakaratul maut. Ketiga, matriksnya adalah ajaran moral tentang ingat akan kematian atau kesadaran manusia akan kematian, manunggaling Kawula-Gusti ; modelnya adalah “Asmaralaya”, dan varian-variannya adalah 

(1) éling, (ingat) akan kodrat manusia sebagai kawula (hamba), 
(2) mengetahui hakikat Tuhan, 
(3) berusaha menjadi insan kamil, 
(4) cara-cara menghadapi sakaratul maut, dan 
(5) langkah-langkah untuk menuju dan mencapai manunggaling Kawula-Gusti . 

Keempat, hipogram yang terdiri atas hipogram potensial dan aktual, ditransformasikan dari ide dasar “ajaran manunggaling Kawula-Gusti ” yang diuraikan di dalam Wirid Hidayat Jati , Suluk Saloka Jiwa , Suluk Supanalaya, Sêrat Pamoring Kawula-Gusti , Sêrat Paramayoga, Sêrat Wédhatama, dan Al Quran. Kata Kunci : naskah, Sêrat Asmaralaya, piwulang, semiotika xv


=======================================

Pramana


Dalam ajaran agama Hindu terdapat konsepsi ajaran yang disebut Tri Pramana. "Tri" artinya tiga, "Pramana" artinya jalan, cara, atau ukuran. Jadi Tri Pramana adalah tiga jalan/ cara untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu, baik nyata maupun abstrak yang meliputi:



Agama Pramana
Anumana Pramana
Pratyaksa Pramana

Dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26 disebutkan:

Pratyaksanumanasca krtan tad wacanagamah pramananitriwidamproktam tat samyajnanam uttamam. Ikang sang kahanan dening pramana telu, ngaranya, pratyaksanumanagama.
Pratyaksa ngaranya katon kagamel. Anumana ngaranya kadyangganing anon kukus ring kadohan, yata manganuhingganing apuy, yeka Anumana ngaranya.
Agama ngaranya ikang aji inupapattyan desang guru, yeka Agama ngaranya. Sang kinahanan dening pramana telu Pratyaksanumanagama, yata sinagguh Samyajnana ngaranya.

Artinya:

Adapun orang yang dikatakan memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan yang disebut Pratyaksa, Anumana, dan Agama.
Pratyaksa namanya (karena) terlihat (dan) terpegang. Anumana sebutannya sebagai melihat asap di tempat jauh, untuk membuktikan kepastian (adanya) api, itulah disebut Anumana.
Agama disebut pengetahuan yang diberikan oleh para guru (sarjana), itulah dikatakan Agama. Orang yang memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan Pratyaksa, Anumana, dan Agama, dinamakan Samyajnana (serba tahu).

=======================================

Guruloka


Guru Loka apa kang sayekti

Ngen angen nalar pikir lan akal
Endra Loka panganggone
Panca driya satuhu
Lawan rasa nepsu nireki
Kang nama Jana Loka
Rasa mulyanipun
Saking mriku mijilira
Tumuruning manungsa jalu lan estri Ngebaki jagat raya

Guru Loka apa yang sungguh2

Angan-angan nalar dan pikiran
Endra Loka pakaiannya
Lima indra sebenar-benarnya
Juga rasa nafsu manusia.
Yang bernama Jana Loka
Rasa kemuliaan
Dari situlah keluar (jadi)
Yang menurunkan laki-laki dan perempuan
Memenuhi alam raya.

KAWRUH DUMADINING MANUNGSA


https://alangalangkumitir.wordpress.com/2008/05/21/kawruh-dumadining-manungsa/

=======================================

Baitul Makmur



Bait al-Makmur (Arab البيت المعمور, Al Baytul Ma'mur) adalah Kabah penduduk langit sebagaimana Kabah di bumi sebagai pusat ibadah penduduk bumi.

=======================================


asmaralaya

swarga, suwarga, sawarga

swarga

endrabawana, aribawana, asmaralaya, nayapada, rudrabawana, ratibawana, kwana, kamuksan, kamuksapada, kamuksapadan, suralaya, sa(of su)warga, sewalaya, wara, lokabawana, pirdos, para madiwwa, janada, pada, janatun, jagad kamuksan, jagad walikan, muksapada, babat, ngadinin;

=======================================






Ulah Asmara


Ulah Asmara Dalam Membuka Dan Mempercepat Orgasme Perempuan

Dalam Serat Centhini Jilid 2 Pupuh 107 Asmaradana

Dalam masyarakat Jawa adab dan tatacara sebelum melakukan hubungan asmaragama  juga diajarkan sebagai contoh; ritualisasi seksual juga diungkapkan dalam Serat Centhini, termasuk soal tata krama dalam melakukan hubungan seksual antar-suami-istri. Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan. Maksudnya, mengetahui situasi, tempat, dan keadaan, tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.

Selain mendasarkan diri pada tata krama menurut budaya Jawa, tata krama ini juga mendasarkan diri pada hadits Nabi Muhammad SAW. Misalnya, sebelum melakukan hubungan seksual, seyogianya mandi terlebih dahulu. Setelah itu berdandan dan memakai wewangian. Sebelum mulai, berdoa lebih dulu dengan mengucapkan syahadat.

Selain itu masyarakat Jawa juga mengenal kalender seksual. “Ini berkaitan dengan masalah rasa perempuan, yang berhubungan dengan organ genital seksualnya. Satu asumsi bahwa setiap hari organ genital seksual yang sensitif pada perempuan, selalu berpindah tempat, sesuai dengan tinggi rendahnya bulan. Ini berdasar pada kalender Jawa. “Dengan mendasarkan pada kalender seksual, pasangan dapat mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama,”

Dalam Serat Centhini Jilid 2 Pupuh 107 Asmaradana pada 1 – 28  terdapat pemberlajaran  diuraikan secara  gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.  Selain diungkap mengenai tata cara, etika, dan ritualisasi, dalam Pupuh Asamaradana tersebut juga diulas pula bentuk-bentuk serta pose hubungan seksual yang seharusnya dilakukan. Semua itu dimaksudkan agar pasangan dapat mencapai kepuasan bersama-sama. “Hubungan seksual tidak hanya sekadar pemuasan nafsu lelaki maupun perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan cinta kasih, proses prokreasi, dan seks sekaligus sebagai wahana ibadah,” berikut suntingan teks dan terjemahannya :



ASMARADANA

Wusnya wanci lingsir ratri | Ki Saloka Kartipala | Palakarti katigane | samya aso mring modinan | de para waranggana | mantuk maring têngganipun | sadhiya lamun kampiran ||

Sudah waktunya menjelang malam, mereka bertiga Ki Saloka Kartipala Palakarti pulang beristirahat di tempatnya masing-masing dengan para waranggana (penyanyi, penari) dan bersedia apabila mereka datang kerumahnya.

Kang kantun anèng pandhapi | gunême tan ana kêmba | gupruk gar-gêr sru gujênge | Mas Cêbolang lon lingira | Kiyai Amongtrustha | paranta darunanipun | pra apsari asih trêsna ||

Dan yang masih ada di pandapa, saling bercakap-cakap dan saling sendau gurau, sedangkan Mas Cebolang bertanya dengan nada yang pelan kepada  Kyai Amongtrusha,  bagaimana asal muasalnya para apsari (waranggana) mempunyai rasa kasih dan sayang.

Niku anak wontên kalih | saking isarat myang tingkah | kang kalêbêt tyasing wadon | kasiyat saking pandhita | Lukmanulyakin nama | bab kêmate apulang-hyun | dununge rasèng wanita ||

Yaitu ada dua hal :  syarat-syarat tertentu (jamu), tingkah laku (tata krama) dan juga termasuk perasaan/hatinya wanita, merupakan sebuah ajaran dari Pandhita yang bernama Lukmanulyakin, sedangkan bab nikmatnya berulah asmara berada pada rahasia rasa wanita.

Ing dalêm saari-ratri | awit suruping Hyang Arka | tumêkèng pêndhak surupe | rahsa angalih panggonan | anut lampahing tanggal | sapisan nêmbêlas gathuk | têkèng tanggal tigangdasa ||

Di dalam sehari semalam mulai terbenamnya matahari sampai dengan terbenamnya lagi, rasa itu akan berpindah tempatnya mengikuti berububahnya tanggal satu sampai dengan tanggal enam belas selasai dan selanjutnya sampai tanggal tiga puluh.

Lamun ayun pulang rêsmi | anuju tanggal sapisan | awit arasên bathuke | tanggal pindho awit ngaras | pupusêr tanggal tiga | wiwit mijêt wêntisipun | kanan kering karo pisan ||

Apabila hendak berulah asmara pada tanggal satu di daerah kening harus dilakukan cumbuan dengan mencium atau menjilat, tanggal dua di daerah puser, tanggal tiga  di daerah betis kanan dan kiri.

Ping pat mijêt lêngên kalih | kaping lima awit ngaras | ing prêmbayun kalih cêcêg | Ki Têngara Mas Cêbolang | Nurwitri sami latah | de tanggal kaping nêmipun | kawit ngaras slaning imba ||

Yang keempat di daerah lengan kira dan kanan , kelima disekitar panyudara, telinga kanan dan kiri, dan Ki tengara, Mas Cebolang serta Nurwitri sama-sama latahnya, sedangkan pada tanggal keenam berpindah di daerah diantara alis.

Tanggal kaping pitu awit | ngaras slaning payudara | ping wolu ngaras lathine | ing nginggil lawan ing ngandhap | tanggale kaping sanga | mijêt pupu kalihipun | sarta angusap walikat ||

Sedangkan tanggal ketujuh di terletak diantara sela-selanya payudara kanan kiri, kedelapan terdapat pada bibir atas dan bawah, dan pada tanggal sembilan berpindah di betis kanan dan kiri serta di sekitar pundak (belikat).

Tanggal ping sadasa awit | garapên wêtênge ika | ping sawlas ngaras granane | ping rolas ngusap walikat | tanggal ping tigawêlas | wiwit angaras prêmbayun | jumbuh lan tanggal ping lima ||

Tanggal sepuluh beralih di daerah  perut, kesebelas terdapat hidungnya, keduabelas di daerah pundak (belikat), tanggal tiga belas terletak didaerah payudara, sama pada saat tanggal ke lima belas.

Kaping kawanwêlas wiwit | ngaras lathi ngusap suryan | ping gangsalwêlas wus pantog | wiwit ngaras kalih imba | puniku yèn linakyan | kalangkung utamanipun | awit punika wanita ||

Yang keempat belas mulai mencium bibir dan mengusap wajah, yang kelima belas selesai dan mulai di mulai lagi pada kedua alisnya, itu yang harus diperlakukan dan alangkah mulianya sebagai seorang wanita.

Pakolèh rahsa kang luwih | nikmat kalawan manpangat | de kapêndêng panggonane | dèn ungsir têmah glis mêdal | katarik gunging trêsna | pun wadon mring kakungipun | tan darbe cipta liyanya ||

Akan mendapat rasa nikmat yang lebih dan bermanfaat apabila dilakukan pada tempatnya, agar supaya cepat keluar karena tertarik dengan besarnya rasa cinta seorang wanita terhadap pasangannya serta tidak mempunyai perasaan lainnya kecuali terhadap pasangannya.

Trênyuh tyas mung ciptèng laki | tamat kang saking prêtingkah | wontên malih saking êmèl | bilih nuju among raras | punika kang winaca | Alahuma jannibinus | saetan mara jattana ||

Belas kasihnya hannya pada pasangannya, selesai sudah pelajaran  tersebut, dan ada lagi rapal atau doa bila sedang ulah asmara dan ini yang wajib dibaca  Alahuma jannibinus  syaetan mara jattana.

Yèn badhe bêtah kêpati | ron lêgundhi ron widurya | myang babakan trênggulune | pinipisa ingkang lêmbat | ginalintir inguntal | lah punika èsmunipun | winaca ping kalih wêlas ||

Apabila mengingingkan bertahan lama dalam berulah asmara; inilah ramuannya daun legundi, daun widuri dan babakan pule, ditumbuh halus lalu di buat seperti pil dan dikeringkan, dan sebelum berulah asmara (bermain cinta) diminum dan selanjutnya dengan membaca rapal atau doa sebanyak dua belas kali.

Kumala sahaheka di | kun payakun ilaika | datuka muka natane | -ka Allahuma yamuka | nunujra rumnya ala | huyamuka datbiramu | ika sangkrama rakiman ||

Kumala sahaheka di  kun payakun ilaika  datuka muka nataneka Allahuma yamuka nunujra rumnya ala huyamuka datbiramu ika sangkrama rakiman.

Yêkti kuwat dakarnèki | sartane tan nuntên mêdal | wontên mèl pangampêt manèh | kaol saking tiyang sabrang | bilih ayun sahuwat | winacaa kaping têlu | yêkti dangu wêdalira ||

Pastilah kuwat zakarnya serta tidak akan cepat keluar (orgasme) dan ada lagi rapal atau doa untuk menahannya, kaol dari orang manca nagara bila hendak berhubungan agar rapal atau doa tersebut dibaca tiga kali pasti akan bertahan lama keluarnya (orgasme).

Ari panas rênggang bumi | ari hujan rapêt kisma | utawi dènusapake | marang darbèking wanita | rapêt kadi parawan | yèn arsa miyoskên gupuh | mung winalik êmèlira ||

“Ari panas rênggang bumi, ari hujan rapêt kisma” (cuaca yang panas membuat bumi pecah-pecah dan saat cuaca hujan tanah akan merapat kembali) apabila rapal tersebut diusap-usapkan pada kemaluan wanita akan menjadi rapet (kencang) kembali seperti masih perawan, dan apabila berkeinginkan cepat mengahiri permainan ulah asmara hannya dengan membalik rapal atau doannya.

Pami botên akaronsih | nanging sagêd trusing rahsa | amung gêmriming mundrine | pinidih niki mèlira | kunta ngalai mukadas | brai mung punika sampun | yêkti kumyus marawayan ||

Apabila tidak menginginkan bercinta tetapi ingin mendapatkan rasa yang nikmat (wanita) hannya dengan memilin/mengusap puting susunya, inilah rapal atau doanya “kunta ngalai mukadas brai” cukup sudah pasti akan terasa bergetar dan melambung diawang-awang.

Utamine sahuwati | lawan wadone priyangga | aywa raosan salire | tuwin ywa angalêmbana | sakawit amaosa | tangawud sawuse putus | lajêng maos Bissêmilah ||

Yang terbaik saat melakukan ulah asmara (bercinta) dengan pasangannya janganlah membicarakan semua hal jangan memuja, lebih baik membaca istifar dan setelah selesai dilanjutkan dengan membaca bismillah.

Hirakêmanirakimin | nuntên amaos rabana | rabini rabi inni-ne | wêdaling kang punang rahsa | (m)bun-bunan tiniyupa | ywa ambêkan kaHping têlu | ing batin maos punika ||

Hirrahmanirrahim, selanjutnya membaca rabana rabini rabiinni-ne, pada saat keluarnya rasa cinta, tiyuplah ubun-ubunnya tiga kali dengan menahan nafas, dan dalam batinnya sambil mengucapkan doa berikut ini :

Bismilah rahmanir rahkim | macan putih ana (n)dhadha | umêtu banyu uripe | ing urip sajroning toya | lailaha ilolahu | Mukhamad Rasulolahu | wontên malih sarat-sarat ||

“Bismillahirrahmanirrahim macan putih ana dhadha umetu banyu uripe, ing urip sajroning toya laillaha ilallahu Muhammad Rasulullahu” dan masih ada lagi syarat-syarat yang lain.

Mawi lapal sinêrat ing | dhaharan ron dalancang | punika anak wêrdine | parimbonira binuka | sadaya samya miyat | katrinya anurun guyup | winantu sukaning driya ||

Dengan lapal yang tertulis di makanan yang bungkus dengan daun dalancang, yang mengandung maksud; agar membuka primbonnya, semuanya tampak dan ketiga mematuhi dengan rasa gembira tanpa ada paksaan.

Mas Cêbolang tanya malih | èstri mrih saekapraya | kadiparan ing sarate | Amongtrustha mèsêm lingnya | anak pratingkah kasar | ing sawusira pulang hyun | têka kèndêlna kewala ||

Mas Cebolang bertanya kembali, bagaimana agar wanita menuruti segala kemauan? Apa syaratnya? Amongtrustha tersenyum, apabila ada prilaku yang kasar setelah melakukan ulah asmara (bercinta) diamkanlah saja.

Aywa nganggo dènbêrsihi | nulya kagêm rambah-rambah | marang wong wadon sanèse | sadaya ingkang kaambah | adat kang wus kalakyan | nadyan nganti èstri wolu | sadaya anunggal karsa ||

Jangan sampai dibersihkan, selanjutnya dapat digunakan berungkali dengan perempuan lainnya, semua yang pernah dilakukan dan kebiasaan yang sudah terjadi meskipun mempunyai istri sampai delapan tetapi semuanya satu kehendak (saling bisa menerima/memahami).

Wontên ingkang alus malih | pangèdhêpan pangasiyan | miwah saeka kaptine | ananging punika sarat | kêdah mangsuk ing angga | sadhengaha tingkahipun | watone klêbêt dhadharan ||

Ada lagi cara yang lebih halus lagi yaitu lewat kedhipan mata atau pengasihan agar menurut  seia sekata tetapi ada syarat yang harus dilakukan yaitu  merasuk di badan dan bagaimanapun caranya agar syarat tersebut dapat dimasukkan kedalam makanan.

Kumpule kêrokan dhiri | wontên kalihwlas pangenan| pasung myang kalamênjinge | kukulung ati kalawan | kêkèlèk kalihira | tuwin têkukaning sikut | ingkang têngên miwah kiwa ||

Ada empat belas tempat di badan yang harus digosok, mulai dari muka dan leher, uluhati dan kedua ketiak serta lipatan lengan kanan dan kiri (siku).

Têkukan gêl-ugêl kalih | èpèk-èpèk kalih pisan | slaning jêmpol asta karo | kalawan kalih walakang | têkukan dhêngkul samya | tungkak kalih myang slanipun | jêmpolan suku kalihnya ||

Pergelangan tangan kanan kiri, kedua telapak tangan, diantara ibu jari kanan kiri serta di kedua pangkal paha,  kedua lipatan lutut serta dua tumit dan diantara dua jempol kaki.

Jangkêp kalihwêlas warni | nulya winoran kalawan | ing rahsane pribadine | wus kumpul dadya satunggal | tinrap pèk-èpèk kiwa | asta kanan ngudhêg gupuh | maos Ya Allah Mukhamad ||

Lengkap sudah kedua belas macam, selanjutnya disatukan dengan rasa pribadinya, setalah terkumpul jadi satu, ditaruh di telapak tangan kiri sedangkan tangan kanan mengaduk-aduk dengan membaca Ya Allah Muhammad.

La makbuda ilolahi | la nujudda ilolaha | ping tiga nulya winorke | dhaharan myang (n)juk-unjukan | ingasungakên marang | pun êndi kang dadya kalbu | Insa Allah asih trêsna ||

La makbuda ilallahi la nujudda ilallaha tiga kali selanjutnya dicampur dengan makanan dan minuman, serta harus menyakinkan diri apa yang telah diniatkan Insya Allah rasa cinta dan kasih sayang akan didapatkan.

Taksih kathah ingkang warni | nanging punika wus cêkap | winantu lawan bêgjane | sadaya nuwun turira | wus wanci gagat enjang | Amongtrustha lingira rum | prayoga sami bibaran ||

Masih banyak macamnya tetapi ini sudah cukup, dan semua kembali pada keberuntungannya, semua mengucapkan trimakasih  dan waktu telah memasuki pagi hari Amongtrusha berucap sambil tersenyum dan sebaiknya sama-sama membubarkan diri.



Demikianlah sedikit uraian tentang ulah asmara dalam membuka dan mempecepat orgasme pada wanita, yang saya sadur dari Serat Centhini jilid 2 pupuh 107 yang terangkum dalam metrum macapat sekar Asmaradana, mudah-mudahan dengan sekelumit cerita  masalah seks sebagaimana pandangan masyarakat Jawa yang selama ini kita terima dapat menambah wawasan dan kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya, padahal selama ini penggambaran wanita Jawa yang selalu digambarkan bersifat pasrah, dan nrima kepada lelaki bahkan cenderung pemalu dan tertutup.

Dan mohon maaf bila ada terjemahan yang kurang cocok, serta mohon perkenannya bagi para pembaca yang budiman untuk mengoreksi dan membetulkan bila ada kesalahan dalam mengalihkan kedalam bahasa Indonesia. Nuwun. @@K

Mas Kumitir.

https://alangalangkumitir.wordpress.com/2011/12/13/ulah-asmara-pambukaning-rasa-wanita/





Minggu, 24 Mei 2015

Licin saat Sanggama

Agar Miss V Licin saat Sanggama

oleh Diah Komala

Penurunan kadar estrogen pada wanita mengakibatkan sejumlah dampak, seperti berkurangnya lendir dan penipisan pada lapisan vagina. Ketika vagina hanya mengeluarkan sedikit lendir, rasa sakit bisa terjadi saat bersanggama.



Selain kesakitan, hal ini membuat wanita tidak merasakan kenikmatan seks. Sebab ketika kondisi wanita tengah terangsang, maka vagina akan mengeluarkan sejenis cairan yang dapat melenturkan. Selain itu, saluran vagina dapat melebar, menjadi lebih panjang dan lebih basah. Sehingga ketika penetrasi tiba, penis tak mengalami kesulitan untuk "menjelajahi" setiap sudut vagina. Fungsi dari kelenjar-kelenjar dalam vagina juga menghasilkan cairan yang menjaga kebersihan dan kelembapan vagina.



Namun, bagaimana dengan kondisi wanita yang mengalami menopause, ataupun sulit terangsang secara seksual? Apa vaginanya tidak bisa mengeluarkan banyak cairan? Tentu saja itu pemikiran yang tidak tepat. Sebab, masih terdapat solusi mudah untuk membuat vagina licin ketika berhubungan seks.



"Minyak lubrikasi tak hanya membuat vagina lebih ’luwes’, sehingga Mr P bisa masuk dengan lancar. Tapi juga bisa membuat hubungan seks berjalan lebih lama," kata pakar seks dari Amerika Serikat, Pepper Schwartz PhD, yang dikutip okezone dari Sheknows, Senin (29/3/2010).



Nah, jika Miss V Anda kesulitan untuk "menyambut" kedatangan Mr P pasangan, saatnya untuk memberikan minyak lubrikasi sebagai solusinya!
 

SERAT KAWRUH SANGGAMA

 

SERAT KAWRUH SANGGAMA


꧋ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦮꦿꦸꦃꦱꦁꦒꦩ꧉


Amarsitakaken patrap sarta mantranipun saresmi.
Ingkang saged karaos marem tumrap wanita.
Tuwin prayogi kadadosaning putra.


Kaimpun dening :
Raden Bratakesawa
Ing ngajeng redhaktur Budi Utama ing Ngayogyakarta.


Lare ingkang dereng dewasa kaawisan maos serat punika.


TJETAKAN YANG KEDOEA


Kawedalaken sarta kasade dening :
TANGUNSWI

ING KADIRI
1927

Isinipun serat punika :

Bubuka
1. Mula Bukanipun Kawruh Sanggama
2. Pirantosing Cumbana Tumrap Priya
3. Pirantosing Cumbana Tumrap Wanita
4. Patraping Cumbana Kanthi Aji Asmara Gama
5. Ngagem Aji Asmara Gama Kedah Mawi Lampah : Catur Brata
6. Rubedaning Cumbana Sarta Pambengkasipun
7. Pangruktining Sarira
8. Tumuruning Wiji Ingkang Winadi
9. Panunggilanipun Aji Asmara Gama, Inggih Punika : Asmara Sabda, Asmara Sapta, Asmara Wanita, Tuwin Asmara Tontra
Pungkasaning Atur

Bubuka

Sampun dangu anggenm kula gadhah sedaya ngarang serat kawruh sanggama punika, amargi kala kula wiwit ngikat birahi ngantos wanyci tumambirang : maos serat-serat gugubahanipun para sarjana ing jaman kina ingkang isi kawruh bab sanggama, kadosta : wedha asmara, nitimani, asmara gama, susila sanggama, lan sapanunggalanipun. Pangraos kula mboten gampil sagedipun inggal dipun mangretosi suraosipun dening saderek kula para mudha ingkang dereng kathah anggenipun dhahar jalaran serat-serat wau satunggal kaliyan satunggalanipun wonten ingkang geseh, tur panganggitipun sami kathah sesekaranipun sarta mawi seselang tembung kawi tuwin tembung monyca sanesipun ingkang angel sagedipun enggal cumantheling manah. Nanging kala samanten niat kula wau dereng saged kalaksanan dening kaalengan ing pakaryan.
Samangke kula sampun nganycik satengah sepuh, awon ngigur maosi maleh serat-serat kasebut nginggil cap-capan ingkang kantun kanthhil teka kathah temen ingkang pinanggih lepat ing pangecapipun ngantos andadosaken kalintuning suraos tarkadang malah tanpa teges, punika anyjalari manah kula lajeng kagugah maleh, asreng ngarang serat punika.
Menggah pangarang kula serat punika sayektosipun inggih namung ngimpun sarta ngethak-ethukaken karang-karangipun para sarjana wau, kula gubah kula runtutaken suraosipun kula pewah, pamanggih kula piyambak ingkang sasaged-saged kedah pinanggih ing nalar, kados karsanipun saderek kula para mudha ing jaman samangke.
Panggubah kula serat punika ingkang kathah ngangge tembung jarwa wantah kemawon. Mila inggih ragi ketingal lekohipun. Ing pangangkah namung sagedo cetha, ingkang maos gampil mangertos suraosipun, mboten langkung namung aksamanipun para nupiksa kemawon ingkang tansah kula suwun.
Rampunging pangarangipun wonten ing kitha Kadiri, ing dinten ngakat legi, tanggal kaping 28 Pebruari 1926 tinengeran (prasa karonsih trusing ati) utawi 14 ruwah, warsa : be 1856 tinengeran (rahsa tinata ngesthi putra).
Kathandan : ingkang ngarang

N.B :
Cap-capan ingkang kaping kalih punika, mboten namung kula lepasaken ingkang lepat ing pangecapipun kemawon : prasasat kula bangun malih, supados langkung cetha suraosipun.

I
MULA BUKANING KAWRUH SANGGAMA

Sampun kodrat priya punika manawi ningali wanita lajeng tuwuh manahipun remen, sengsem, mekaten ugi kosok wangsulipun, remenipun wau beda kaliyan remen ingkang tumrap dhateng barang. Sayektosipun lajeng kepengin sajiwa utawi salulut dening kodart ingkang mekaten wau kita lajeng gadhah panganggep manawi ingkang Maha Kawasa pancen anglilani sarta paring dhawuh supados kula sadaya bangsa manungsa sami ambabaraken tuwuh mong kaisenipun macapada. Sinten ingkang ngetoaken dhawuh wau sami pinaringan ganjaran kenceng : raos nikmat ing salebetipun tutik.
Ananging sarehning manungsa punika beda kaliyan sato sanajan, bab sarasmi punika sampun sami saged nindakaken inggih kedah nganggeya tata karmaning sanggama utawi susilaning sanggama punika purwanipun wonten kawruh sanggama ingkang ugi winastanan, aji Asmara Gama. Asmara tegesipun sengseming cumbana.
Menggah bakunipun ingkang kinajengaken dhateng ingkang ngagem aji Asmara Gama wau wonten kalih prakawis inggih punika :
1. : Tumrap dhateng rasaning wanita sageda wanita ingkang sininggama punika raos lega, rena, marem carem satemah mantep temen ambangun turut dhateng priya.
2. : Tumrap dhateng putra sageda apuputra ingkang kenging sinebut utawi jalaran saking punika. Mila aji Asmara Gama wau ugi kawastanan, Asmara Dwi Paedah, tegesipun kalih pigunanipun, rahsaning wanita tuwin putra.
Saiba begjanipun manawi priya saged amengku garwa ingkang ambangun turut bekti ing laki, tuwin kagungan putra ingkang utami, sangsaraning sangsara manawi kataman kosok wangsulipun mila kainan sanget manawi priya mboten karsa marsudi sarta ngagem aji Asmara Gama punika.
Kacarios menggah aji Asmara Gama punika ing kinanipun ingkang ngagem namung panyjenenganipun para dewa tuwin para nabi, lajeng tumurun dhateng para sinatria ingkang linangkung, angsalipun aji wau sarana perkaos, kedah tinumbas ing tapa brata. Sang Hyang Giri Nata (Bathara Guru) duk jaman kina, Bathari yosagedipun katarima pinaringan aji wau dening Sang Hyang Tunggal inggih mawi mesu puja brata jalaran taksih sereng marem ing galih kagungan putra sakawan mboten wonten ingkang pinunjul. Sasampunipun Sang Hyang Giri Nata ngagem aji Asmara Gama lajeng saged apaputra Sang Hyang Wisnu gugunganipun para dewa.
Dados aji Asmara Gama punika panycen dede ngilmi sembarangan, mila mboten prayogi damel kangge mainan sayekti malati. Inggih punika : manawi panggilutipun mboten adadasar panggalis suci, resik, sisip sembiripun kesasar kerem dhateng patrap pratingkah lalangening cumbana tuwin raos kanikmatan kemawon satemah dados priya brancah boten pilih-pilih inggih bilahi yektos ngrisakaken jiwa raga mula saderek kula para mudha : den awawas dene amut.

II
PIRANTOSING CUMBANA TUMRAP PRIYA

Pirantosing saresmi tumrap priya punika wonten ingkang katingal saking jawi sarta wonten ingkang dumunung ing lebet katarengaken kados ing ngandhap punika.
1. Kalam utawi dakar
Kalam utawi dakar inggih pasta purusa, peranganipun wonten tiga inggih punika :
1) Otot ageng sakembaran jejer saes dhawuluh ing sanjata panganten, otot punika ing lebet ngrokos pindha jamur karang dados pirantos wadhah erah. Manawi nuju kothong : dakar empuk yen kilen erah dados atos saya kathah rahipun ingkang mili mriku saya mindhak atosipun kiyat kenceng.
2) Bolongan margi turas lan nutpah, dumunung ing sirahing dakar kapering ngandhap.
3) Urung-urung margi turas lan nutpah, kaprenah wonten saantawisipun otot ageng sakembaran wau kaperang ngandhap saestalantakipun sanjata panganten wau. Urung-urung punika pungkasanipun ingkang satunggal dumunung wonten ing sirah. Satunggalipun wonten ing poking dakar ugi ngrokos pindha jamur karang, manawi sampun kilen erah saged melar sarta atos.
Titian kina anggenipun nyukani paparap dhateng dakar utawi kalam wau kapendhetaken asmanipun para dewa ingkang sinekti, kadosta : Sang Hyang Surasmara, Sang Hyang Purusa, sapanunggilanipun. Ingkang mekaten wau saking sangeting anggenipun ngaosi.
2. Palandhungan
Palandhungan utawi konthol, punika wujud kulit awangun kantong saged melar sarta mangkeret limrahipun langkung cemeng tinimbang kulit ing saranduning badan. Ing lebetipun palandhungan punika wonten paringsilinipun kalih, jejer gumandhul wonten pokipun dakar mawi kaletletan ing kendhangan. Ingkang kiwa limrahipun langkung alit katimbang ingkang tengen, nanging langkung landhang. Paringsilan punika gembuk-gembuk saged landhung sarta mangkeret, manawi tiyang saweg ngraosaken nikmating cumban, paringsilan punika dados atos sabab kalenanipun ing lebet kebak isi erah. Paringsilan punika peranganipun ing jawi kepara nginggil wonten amplokipun awangun lintah sarta wonten usus-ususipun ingkang mengkal-mengkol saes nglangi, ciyuting bolonganipun usus-usus punika namung sarambut pungkasanipun kempal dados satunggal kaliyan peh. Usus-usus punika dados urung-urung wedalipun nutpah saking pringsilan. Wonten ingkang nginten manawi tiyang kebincih punika boten saged jimak malih, nanging panginten punika lepat sayektosipun taksih saged namung kemawon boten ngedalaken nutpah, dados boten saged nganarki. Wunguning dakar punika boten sabab saking nutpah, inggih punika saking kilening erah kados ingkang sampun kapratelakaken ing ngajeng.


3. Badhening nutpah
Nutpah utawi kama punika awujud yiyit warninipun pethak monda-monda. Gandanipun saemper kerikan balung utawi cingat. Wedalipun saking palandhungan wigunanipun kangge netesaken badhening manungsa. Menggah kadadosanipun nutpah utawi kama wau saking yiyit tigang prakawis. Inggih punika ingkang medal saking peh, saking purus, tuwin yiyit ingkang medal saking impes. Yiyit ingkang medal saking peh punika boten kenthel sarta tanpa gonad, wedalipun kantun. Dene yiyit ingkang medal saking purus sarta impes punika wedalipun dakar dados kenceng tuwin nalika ngraosaken nikmat. Yiyit punika pliket ugi tanpa gonda. Kempalipun yiyit tigang prakawis punika ingkang anjalari anggonda kados dene kerikan balung. Nanging manawi sampun kenging hawa, gonda wau sirna. Sarat manawi sampun garing warninipun jibles pethaking tigan.
4. Satwa mani maya
Satwa mani maya : jarwanipun kewan kama, inggih punika kewan ingkang alit sanget ingkang dumunung wonten ing salebeting kama. Dumadosipun wonten ing pringsilan. Wiwit lare ngangkat birahi kinten-kinten umur 15 tahun, curesipun ing badan manawi tiyang sampun umur watawis 65 tahun. Satwa mani maya wau saking paringsilan lumember dhateng peh. Kamaning priya ingkang taksih kadunungan satwa mani maya, manawi saged gathuk kaliyan tigan badhening manungsa ingkang dumunung wonten ing wanita lajeng rumesep ing tiga wau apratistha ing jeneripun ing ngriku wanudya lajeng saged ing garbini.
5. Peh
Peh punika wujud kekempalaning kanthongan alit-alit dados wadhahing nutpah ingkang badhe kawedalaken cacahipun wonten kalih, sisih kiwa kaliyan tengen dunungipun wonten ing saantawisipun impes lan usus jubur. Wangunipun kados poporing pistol, lumahipun kebak isi jentolan. Nutpah ingkang saking pringsilan sasampunipun lumampah anglangkungi usus-usus ingkang saestha sawer nglangi wau lajeng kendel wonten ing epeh. Ing ngriku peh lajeng ngedalaken yiyit inggih punika lajeng dados kama ingkang medal nalika priya mungkasi cumbana.
6. Purus
Purus punika wujud koyor angeng, warninipun pethak monda-monda, dumunung ing saantawisipun jangganing impes wadhah turas kaliyan poking dakar. Wangunipun memper jambu nanging gepeng, indhenipun katrajang ing urung-urung margi turas pramila manawi purus wau dados ageng, amargi saking sanget karem olah asmara, urung-urung wau dados kaslempit andamel pakewed manawi turas.



III
PIRANTOSIPUN CUMBANA TUMRAP WANITA

Pirantosing cumbana tumrap wanita punika ugi wonten ingkang katingal saking jawi, wonten ingkang dumunung ing lebet katerangaken kados ing ngandhap punika.
1. Parji utawi Pawestren
Parji punika tembung sarab, tembungipun jawi pawestren, kawinipun baga, peranganipun :
1) Babathuk, wujud daging alus ing gajih, kabasakaken redinipun Sang Devi Venus inggih Sang Hyang Ratih. Milanipun anggajih sayektosipun minongka tatanggul supados pameteking priya duk kala cumbana boten angremekaken balung enem ingkang dumunung ing lebet, babathukipun lare estri ingkang sampun ngangkat birahi punika adatipun kathukulan rambuting prentel, trus mangandhap urut korining parji.
2) Korining parji inggih punika blewehanipun parji ingkang katingal saking jawi. Limrahipun mingkem adhames nanging wanita ingkang metdaging utawi ingkang sampun kerep ambabaraken putra boten makaten kawontenanipun.
3) Lambe ageng wonten ing lebeting kori ingkang jawi piyambak saestha wengku. Piranganipun lambe ageng ingkang jawi awujud daging kandel pojokipun ing nginggil gandheng kaliyan kuliting bathuk sangandaphing pojok punika wonten dagingipun menthol kawastanan indreng. Lare estri jawi ingkang sampun umur 6 utawi 7 taun, pojokipun lambe ageng ing ngandhap dumunung ing kawet sacelakipun jubur. Manawi wanudya nglairaken jabang bayi ingkang ageng, perangan ing ngandhap wau asring suwek, nanging lami-lami saged pulih malih.
4) Kawuping parji kawastanan lambe alit inggih punika lambe ageng ing perangan lebet dados inggih gandheng kemawon kaliyan lambe ageng wau. Awarni daging alus malerah abrit dados pirantos nuwuhaken raos nikmat tumrap wanodya. Kuwup punika pojokipun ingkang satunggal dumunung ing ngandhap satunggalipun nyonthong manginggil awujud daging menthol berut-berut kawastanan purana utawi waga prana.
5) Purana utawi Waga Prana dados pirantos tuking kanikmatan tumraping wanita. Kadadosipun sarta lageyanipun boten beda kaliyan dakar, inggih punika saking otot-otot ingkang alus. Waga prana punika manawi kagepok wanita ngraosaken keri sarta nikmat kathah tiyang ingkang cawuh ambedakaken indreng kaliyan purana utawi waga prana punika. Ing serat bau sastra jiwa kawi : purana, waga purana, kaliyan indreng (itil) punika panycen kadamel sami. Ing tembung walandi inggih makaten, anggenipun mastani indreng punika kittelaar, tembungipun latin clitoris. Ing Kramers Woordentolk anggenipun nerangaken makaten : clitoris (latijn) kittelaar, vrowelijk orgaan der geslachtelijke prikkolbaarheid. Nanging mirit katranganan ing nginggil sayektosipun indreng kaliyan purana punika piyambak-piyambak, indreng : punika turutanipun lambe ageng, dumunung ing pojokipun lambe ageng ing sisih inggil dados ragi ing jawi. Sareng purana utawi waga prana : punika turutanipun kuwup (lambe alit) ugi ing sisih inggil dados dunungipun ragi nglebet. Ingkang saged nuwuhaken raos nikmat tumrap wanita sarta anggadhah ing watak keri manawi kasenggol (prikkelbaarheid) punika purana, indreng : boten.
6) Daging song. Ing ngandhapipun babathuk baga ingkang nglebet punika wonten dagingipun ingkang kawastanan daging song, dipunparabi Sang Hyang Lambira. Agengipun sami kaliyan mentholing bathuk baga. Song wau manawi kasenggol wanita karaos keri, song lajeng mekrok saestha kewan kintel manawi kasenggol, mekrokipun wau andadosaken karaos nikmat ing sakali-kalihipun (wanita lan priya) daging song kaliyan purana punika inggih sok jumbuh anggenipun mastani, mungkasa yektosipun kathah sanget bedanipun, purana punika daging menthol alit, song punika ageng : sami mentholipun baga, dunungipun langkung lebet malih tinimbang purana. Ing serat nitimani nyebataken manawi Sang Hyang Lambira (song) punika dunungipun wonten ing wurining purana, nanging punapa tembung purana ing serat nitimani wau ingkang dipunkajengaken indreng, punapa purana ingkang sebut ing wdangka 5 ing nginggil punika : boten terang, amargi ing serat nitimani noten mratelakaken bab perang-perangan wau.
7) Margi turus, dumunung sangndhaping purana. Letipun dados pungkasaning margi turasing impes, ingkang nama impes punika kanthongan wadhah turas dumunung wonten sanginggilipun baga.
8) Pastiawa. Punika lenging parji. Manawi taksih prawan katutupan ing kendhangan alus kawastanan kulit prawan utawi beteng. Beteng punika wonten bolonganipun ciyut manawi katemben rinurah ing kakung : beteng wau bedhah sarta ngedalaken erah mila kenya ingkang saweg sapisan rinabasing priya punika karaos sakit (perih). Beteng wau ugi saged bedhah jalaran dhawah utawi kaplengkang kala alitipun.
9) Kuwung-kuwung. Inggih punika urung-urung saking pastiawa dhateng borining pranakan dumunung saantawisipun impes lan usus ageng ing jubur. Wangunipun saestha bumbungan nanging gepeng saya nglebet saya jembar. Adekipun boten jejeg lan boten sumeleh, inggih punika mayak, kuwung-kuwung punika awujud kulit kados babad saged melar mingkup sarta tansah teles semu kiner-kiner.
2. Pranakan
Pranakan ugi kawastana wadhah bayi, dumunung saantawisipun impes kaliyan usus ageng ing jubur, sumeleh ing pungkasaning kuwung-kuwung, ing kiwa tengenipun dipun uwat-uwati kendhangan saestha lurub sarta otot gilik, adebipun pranakan wau ugi mayak nunggil sipat kaliyan pastiawa tuwin kuwung-kuwung. Pranakan punika wangunipun kados kalenthing, sarta bolonganipun ing nglebet kadugi namung isi wiji jiram pesel satunggal nanging manawi sampun wontem isinipun jabang bayi saged melar ngebat-ebati. Peranganipun wonten tiga inggih punika ingkang amba lendhuk kawastanan badan ingkang menggik kawsatanan jongga, ing pungkasaning jongga kawastanan kesan utawi lenging pranakan gandheng kaliyan kuwung-kuwung, warninipun lesna punika kados silet ayam, wanita ingkang sampun nate ambabaraken putra, leng wau wonten tilasipun suwek wanita ingkang dununging pranakanipun lebet mongka pasta purusanipun kakung kirang panyjang, boten saged puputra, amargi panyemproting satwa mani mayanipun kakung boten saged dumugi lenging pranakan. Makaten ugi manawi lenging pranakan wau kepepetan erah sasakit sasaminipun inggih boten saged puputra.
3. Sopanaan Tiga
Sopanaan tiga punika talang tiganing manungsa, wujud bumbungan otot alus kados usus cacahipun kalih, kiwa kaliyan tengen gathuk kaliyan pranakan wonten ing lompongan ingkang wiyaripun namung cekap bobat satunggal talang tigan punika dados marginipun tigan ingkang dumunung wonten ing urita rentah lumebet dhateng pranakan tuwin dados marginipun kamaning kakung ingkang sampun lumebet ng pranakan badhe methukaken lampahing tigan wau. Tigan kaliyan kama wau manawi gathuk wanita saged anggarbini.
4. Uritan
Uritan punika penggenanipun tigan badhening manungsa. Wangunipun bunder bligon warninipun pethak ing nglebet abrit sarta ngrokos pindha jamur karang, isi bayu pinten-pinten sami pluntiran, uritan punika dados timbunganipun pringsilan kaotipuny : pringsilan anggenipun nuwuhaken kewan kama (satwa mani maya) wonten ing nglebet uritan anggenipun nuwuhaken tigan wonten ing jawi. Dunungipun uritan punika wonten ing pungkasanipun talang tigan. Tigan saking uritan badhe lumampah dhateng pranakan punika, boten saben-saben nurut ing talang tigan terus saged dumugi ing pranakan nanging mawi katampen ing trompet rumiyin, trompet punika peranganipun ing ngandhap bolong sarta ing pungkasanipun mawi gombyok kawastanan pranye. Gombyok wau terkadhang nutupi lenging talang tigan mila lampahing tigan wau sok sarkecemplung ing bolonganing trompet ing ngandhap wau, terkadhang kaalang-alangan ing pranye, satemah boten saged dumugi ing pranakan.

IV
Patraping Cumban Kanthi Asmara Gama


Patrap utawi pratingkah ing saresmi punika warni-warni, kadosta : miring, anyjebing, lenggah, mangku, ngadegm sukuning wanita dipun panggul, wanita wonten ing nginggil, sapanunggilanipun, ingkang murih sukaning galih, ananging patrap ingkang makaten wau sayektosipun kirang mikantuki tumprap salih-kalihipun. Sarta kenging kabasakaken kekathahen polah boten pasaja.
Ing ngatasipun aji asmara gama, punika boten namung murih leganing prana kemawon inggih ugi amrih leganing rahsa sajati, mila kedah ngangge patrap pratingkah utawi tata kramaning sanggama ingkang prayogi (susila sanggama) sampun kadamel mainan kasukan.
Menggah pratingkah ing cumbana ingkang mikantuki punika kacariosaken kados ing ngandhap punika.
Manawi badhe matrapaken sacumban, punika utaminipun priyantun kawing kaliyan putri lenggah rumiyin ajeng-ajengan, ardaning driyanipun asrep-asrepa, ponyca driya kaleremna, sawarni kados badhe muja semedi. Nunten astaning priya ingkang tengen anyepenga dariji manisipun wanita ingkang kiwa, lajeng kapijeta sawatawis supados wanita kraos manahipun gadhah greget saut pyur tratab, ngnatos karaos ing jisimipun estri, titikanipun keketekipunestri mungel deg-deg, asring kepireng ajeng-ajengan, nunten kakung angasta agigirpun estri dumugi walikatipun tuwin angarasa poking karna ingkang wradi ngantos dumugi grananipun wanita. Tumunten angalapan pasipun estri, katariking napasipun kakung, ing batos nyipta angalap manahipun wanita wau. Lajeng angaras alarapanipun estri, sarta anyepta amalih : ngalap warni, kala kuwan tuwin nyawanipun wanita wau sarana dipun aras embun-embunanipun, sadaya wau kedah katindakaken kalayan sabar sareh.
Menggah anggenipun mawi patrap kados ing nginggil punika wau, saking pamanggih kula ingkang dipun kajeng ngaken makaten : sapisan, supados hardaning priyanipun priya boten ngombra-ombra, panggalih boten daya-daya, pikantukipun adamel dangu medaling rahsa, satemah adamel leganing prana tiwun prayogi tumraping putra. Kaping kalih, mawi nageningken cipta pangalap manah tuwin nyawanipun wanita (aji asmara cipta), punika manawi katrimah nggih prayogi sanget. Awit saged adamel lega rahsa ning wanodya ingkang sajatining rahsa, pikantukipun wanita saged karaos marem carem lair batos. Kaping tiga, mawi mijet dariji, ngaras sapanunggilanipun punika minongka panggungah supados manahipun wanita saged karaos rahsanipun saged kabuh, pikantukipun garegeting wanita saya mempeng, dununging rahsa enggal cumawis. Satemah gampil ing pangrurahipun, sayektosipun bab patrap ingkang mongka pambukaning rahsa punika inggih kenging nganggep trap sanesipun makaten punika. Namung anggeripun boten sanget saru kados satataning sato, dene utaminipun anindakna aji asmara wanita kasebut ing wingking, mongka pambukaning rahsanipun wanita wau.
Sasampunipun makaten, wanita lajeng karangkula, kasarekaken ing kajang sirah ingkang alon ririh, jengkuning estri kalih pisan katekuka : kasedhekusna manginggil, ragi kabenggang sawatawis, kempol karapetna ing pupu, tungkak karapetna ing pocong saestha kadamel nyagatki. Priya lajeng amatrapna sariranipun pribadi, patrapipun mangkurep suku kalih pisan kaslonyjorna ingkang rapet, padharan kaabena sami padharan. Jaja katumpangna payudara den ririh (anggah-anggah) astaning priya ingkang tengen kasedekusna, asta ingkang kiwa kabantalna ing cengelipun wanodya.
Manawi sampun makaten priya lajeng amaos mantranipun aji asmara gama ing salebeting batos kadosing ngandhap punika :
“Hong hyang-hyang kama jaya ratih, surap sarasurap sari eng asmara, ulun mawisik wanita, matemah yumana kang rahsa, sing dayeng aji asmara gam, myang wiseseng paduka”.
Bakda punika lajeng amaosa mantra malih, mongka panariking wiji ingkang utami, makaten :
“ Hong hyang-hyang dhada pratingkah, ulun manuhun lumeraheng wijining manusa wakang minulya, mokasuting ulun sing wiseseng paduka”.
Sarampunging pamaosipun montra wau kenging lajeng miwiti nindakaken sanggama. Lebeting pas purus ingkang alon saking sakedhik, manawi pasta purus sampun dumugi ing kuwup lajeng kaangkah-angkaha sagedipun tansah anggo soka esong, pandedelipun ingkang ajeg lan alon-alon manut panyjing wedalipun napas, ing salebetipun makaten bilih karsa angaras : angaras saantawising pipilan grana. Panggalintiring penthil kaangkah amurih kerinipun, thukuling raos daya-daya kedah tansah dipun perangi wontenipun namung sareh, ngarah-arah. Empaning sanggama kacipta amanggen wonten ing pucuking pasta purusa.
Manawi song wau tansah kagosok estri karaos nikmat sarta keri, adat ingkang sampun kalampahan lajeng ngedalaken toya ingkang kados yiyiting mina. Ing ngriku kerinipun saya wewah, nyarambahi ing badanipun sakojur, gregeting karsanipun estri katawis saya mempeng, sautipun pastiawa karaos saya kiyeng, watakipun lajeng buteng, inggih punika lajeng palintiran ngulat-ngulet utawi damel solah bawa sansesipun, ingkang sayektosipun ambiyantoni solah ing pasta purus : supados nyenggol ing dununging prasanipun.
Tumrap estri ingkang sampun kawical lenyjeh ing kakung, wiwit sinanggama : sampun damel solah bawa, anggenipun damel solah bawa punika mawarni-warni, tanpa mawi taha-taha utawi rikah-rikuh, malah pangraosipun : solah bawanipun wau satunggaling wignyan ingkang saged damel sukaning kakung. Nanging satemenipun : panycen inggih, kathah priyantun kakung ingkang lamlamen dhateng solah bawaning wanita ingkang makaten wau. Dene tumrap wanita ingkang sae ‘ saha, solah bawanipun wau namung samadya kemawon : manawi sampun karaos keri sanget jalaran inggih rikuh manawi kadakwa lenyjeh ing kakung punika wau.
Ing wekdal wanita greget sautipun katawis saya mempeng wau, priya kedah nimbangana, inggih punika dedel sendhalipun pasta purusa ragi kakerepana sarta karosanipun kaajegna. Sasampunipun makaten sukuning estri lajeng kawudhara : salonyjor, pupu karapetna sami pupu, dene pupuning priya kalih pisan inggih lajeng katumpangna ing pupuning wanita. Salajengipun bab pangaras sarta panggalintir penthil ugi kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil utawinipun mawiya anyecep lathiningt estri ingkang ririh, sarta sarira kagosokna sami sarira ingkang waradin, manawi solah bawaning wanita sampun katawis saya buteng, kados bathara kala krodha badhe anguntal jagad mratandhani manawi sampun badhe amudhar prasa, inggih lajeng kapungkasana, sarana ngerepaken sendhal dedeling pasta purusa, adat ingkang sampun kalampahan boten dangu wanita lajeng mudhar prasa, mila sirahing purusa karaos kados dipun ameti ing lambening kenya gondhang, (gineget ngepuh kama). Inggih punika korining kayanganipun sang hyang kamajaya binuka medal minongka rahsa pita. Tarkadhang asring kepireng swara mak cethut dening rosaning panggeget amargi saking leganipun, pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados onycat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Dene tumrap wanita ingkang sae-sae, adatipun namung sasambat kapurih nyampuni, dening panycen sampun rumaos kalegan prananing rahsa.
Dene utaminipun duk kala badhe mungkasi wau, manawi priya samampun karaos gumreget badhe ngelaken rahsa (kama), punika lajeng wiwit amegenga prasa, tanycebing cipta ing gayuha utama. Manawi kama sampun medal pasta purusa katetepna den ngantos netep kakendelna panggosokipun ing ngriku lajeng amepeta ponyca driya, eninging panggalih anggayuh utama kalajengna. Pikantukipun : manawi kasusupan wiji mongka lantaraning dumadi, badhe prayogi kadadosanipun.
Wonten matih patraping cumbana ingkang saged damel leganing wanita, ananging priya sok boten betah, jalaran kedah ragi sawatawis dangu ing panggosokipun, patrap wau estri leaslonyjorna bokong kaganyjela ing kasuran alit supados baganing estri saged mangal, sukuning priya kapethangkongna, (kasedhekusna mregagah), padharan ugi kaabenna sami padharan jaja katumpangna ing payudara. Panggosoking pasta purusa dedel sandhalipun kabandulna manginggil supados sageda anggosok song, kridhaning bokonging priya sawatawis kaegol-egolna manangen mangiwa. Bab pangarsa paneceping lathi, salajengipun ugi kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil.
Patraping sanggama ingkang kasebut ing serat niti mani kados ing ngandhap punika wosipun :
Kalamun pasta purusa, wus kiyeng kiyet santos, kwehning saya wus samekta, iku nulya katindakna, umangsah ing rananggana, sayekti datan kuciwa, katempuh ing rananggana, sayekti datan kuciwa, katempuh ing bandayuda, nanging ta dipun prayitna, ing tendak away sembrana, gone bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya lega ning driya, wruh antawisipun waspada, jroning pasti kono ana, musthikaning rasa mulya, rineksa para jawata, karan Sang Hyang wdatapatra, utawa Sang Hyang gambira (song), dumunung wuri purana, yen tinempuh dening gada, watak keri prasanira, nuli babantune prapta, pipingitan ing jrobaga, ingaran sang hyang asmara, asisilih Sang Hyang Cakra, kang abi praya sarosa, wimbuh keri ngriming ngira, anarik daya ajunya, mring Sang Hyang purnama sangko utama Sang Kamajaya, pameting rahsa mangkana, srana ngagem mawi saya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solah hira, duk marwani lumaksana, karya pupusuking yuda, kwehning daya sanis kara, aywasi nerusa rosa, ing tindak kedah saronta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita, kalawamun wus sawatara, campuh ing pringlama-lama, papalu tumempuhira, pinindha upama gada, tinangkis ing bonda baya (tameng), saking rosaning panggada, kuwating panangkis sira, wekasan metu dahana, mubal sumundhul ngakasa, susumuke ngemu pega, kukus katut samurana, prapta tumanduking prasa, kekerining mengsahira, gumriming saya andadra.
Gantya wau sang wanita, genya tadhah bonda baya, mubal wetuning dahana, sumarambah ing sarira, tan kuwawa anaenna keri gumriminging prasa, saya harda ngombra-ombra, wantu wataking wanodya, yen wus liwung kroda nira, ing budi datan saronta, sigra amusthi sanyjata, warastra mongka pusaka, tuturunan sang jawata, ganyjaran ayang liri nata, piningit sajroning baga, yeka kanghru barunastra, sumembur angemu tirta, toya lir yiyiting mina, angalem pasta purusa, wauta sira sang pasta. Silem kineleming tirta, tan montra-montra riringa, ing solah saya gambira, pangeburing barunastra. Lir ombak samodra bena, gangge lumut satepinya, samodra karoban toya, ngempel ngumpu ? lir tinata, babarisa wraata bala, kadi gelar cobra banyua, bobondhot bundheting pasta, nging tan surut saya rosa, liwung pamukireng yuda, mangkya gantya cinarita, ramening prang bratayuda, nulya kono anaswara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa asung samita, wiyosa kadya mangkana, eh kulup sira sang pasta, po mangger dipun prayitna, panarik sendhaling gada, maju miwah undur rira, papane lunyu sadaya, wus tan kena tinulaka, wit iluning barunastra, saya adres panemburnya, dene gon malumaksana, lamun lena yekti ina, yen kaplesed angsahira, rebah nindhihi gada, katikel dadya rubeda, ing jro aran roga brata, pileg ing kadadeyannya, lan kulup weruha, adat wataking wanodya, yen wus ngedalaken tirta, kang kadi yiyiting mina, gumriminge saya harda, mempeng sereng ngireng prasa, kawistara sarapira, kiyat kiyeng sariranya, sawonda kejeng sedaya, dene lamun wus mangkana, sira adar beya sedya. Tutulung mring mengsah ira, tumraping asmara gama, tan liya amung wisaya, silahing pusta purusa, sinengkakna pamukira, tempuh pamukuling gada, kang ajeg lan den kerepna, kalawan dipun waspada, amawasa ing sasmita, adat wantuning wanita, yen wus liwung pamukira, nulya kagawe lelewa, pratingkah solah ingkangga, wit saking kurang prasaja, sajatine karsanira, biyantu solahing pasta, kinen nuju amrenahna, mring dununging prasa sira, kang supaya tinrajangnga, sinondhal pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lama, wanita amudhar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyodol pucuking pasta, iku saka kira-kira, laraping reca gupala, kabukaning kang wiwara. Jineking Hyang Kama jaya, aliya tondha mangkana, ing sayekti kawistara, kawawas sawarna nira, ingkang ga sakojur wanda, anglir kaonycatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anandhing enaking rahsa, sasambate melas sarpa, karya trenyuh ing wardaya.
Patraping sumbana ingkang kawarsitakaken ing nginggil punika wau kenging dipun wastani sampun nyekapi, liripun dene sampun seged damel leganing wanita, pratondha angganipun ngalumpruk marlupa yayah kaonycatan yitma. Ingkang prelu, ing salebetipun saremi, wau priya kedah amawasa ulat liringing wanita, tuwin inggih amwas sari ranipun pribadi. Manawi panggalih sampun karaos lega, maren sarem ing salih-kalihpun upami dahahar makaten sampun karaos tuwuk prayogi kapungkasana saperlunipun, inggih punika nalika wanita mudhar prasa wau priya nyarengana wedalipun kama. Nanging manawi liringing wanita sanajan sampun wudhar prasa : nanging sajakipun dereng patosa lega, upami dhahar makaten taksih kedah tanduk utawi manawi priya pribadi ingkang rumaos dereng lega, inggih sampun anyarengi ngedalaken kama, dados wanita mudhar prasa piyambakan, dene manawi priya karaos kelayu badhe tumut mudhar prasa (ngedalaken kama) kedah dipun ampet kalayan tahan, sarananipun ngampet makaten :
Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun ngantos kadamel lega, tegesipun : manahing priya sampun kadamel lega, angenget-angeta gelanipun, pasta purusa kakendelna rumiyin wonten ing jawi utawi wonten salebeting kuwup gumantung seneng parengipun panggalih. Manawi sampun ragi aring, raos kelayub dhemudhar prasa wau sampun ical, kenging tumunten kalajengaken malih, nanging sampun grusa-grusu, sampun daya-daya, awit sang wanita wau sariranipun marlup, mila kedah dipun arih-arih, bok manawi kapareng dhangan ing panggalih. Priya kedah angempakna tembung manuhara, manis sedhep ing wicara, den bisa nuju prara, angatingalna katresnanira. Manawi sampun wonten antawisipun kepareng, patrap pratingkahipun inggih tan prabeda kados ing nginggil, sang wanita kagugaha kerining prasanipun, adat ingkang sampun kalampahan boten antawis dangu wanita lajeng pulih malih kakiyatanipun, tandanmgipun kados raseksa badhe amangsa daging. Ing ngriku priya ingkang prayitna, kenging lajeng dipun kerepi sendhal dedeling pasta purusa, sarta lajeng angedalna kama ; nyarengi pamudharing prasanipun wanita, dados wanita mudhar prasa kaping kalih, priya sapisan.
Ing serat paniti sastra, gugubahanipun bagawan palasara ingkang sampun dipun jarwakaken dening Sang prabu Jayabaya (*) ing bab 85 nyebutaken makaten : menggahing sanggama, tiyang jaler & punika saminipun pawestri, mila pangandikanipun dewi drupadi : boten wonten pawestri tuwuk ing kakung. Nanging ungel-ungelan punika sayektosipun tumrap priya ingkang boten ngagem aji samara gama. Manawi priya saged nguja karsaning wanita kados ingkang kapratelakaken ing nginggil nika, wanita inggih saged karaos tuwuk sayaktos malah kacariyos tuwukipun wau sagen kangge ing salebetipun saminggu.
Kacariyos katrimahipun aji asmara gama ingkang makaten punika, wanita karaos angsal sarining kanikmatan ingkang linangkung, sarta tansah enget slaminipun gesang dhateng tanduk solah bawa tuwin warninipun kakung, sanajan tebih inggih tansah katingal gawang-gawangan tuwin boten kasupen raosing kanitmatan wau. Mila priya ingkang sampun widagda dhateng aji asmara gama wau, sanajan mengku pawestri ingkang leyjeh pisan insya Allah saged malik dados narimah, manut miturut sapangreh ing kalung, rumaos boten saged pisah. Manawi wonten alangan pisan, mongka estri wau sinanggama ing liyan kakung, ing salebeting sumbana wau tansah karaos Cuma, gela, sarta kengetan wawentahan dhateng raosing kanikmatan nalika sinanggama ing kakung ingkang undhagi aji asmara gama wau, dening panyoen beda sanget raosipun awit sang widagda asmara gama wau, boten namung saking sagedipun dateng bab patraping sanggama : anuju prasaning wanita kemawon inggih saking katarimah anggenipun nyipta ngalan manah tuwin nyawanipun estri wau dados wanita karaos kalengan sanget rahsanipun sajati. Panycen inggih boten gampil nindakaken aji asmara gama punika, nanging wonten babasanipun : sapa temen-temen: tinemu. Dados manawi wonten priya karsa cumaban sarana roda paksa utawi namung kangge mainan sasaminipun punika boten kalebet ing wawarahipun kawruh sanggama punika.
Manawi priya sampun widegda sayektos nindakaken aji asmara gama makaten punika, sanajan pasta purusanipun alit utawi ageng, celaka, panyjanga, sampun sami kemawon : saged damel suka renaning wanita. Nanging priya ingkang dereng saged nindakaken aji asmara gama : boten makaten, manawi pasta purusanipun alit : wanita karaos Cuma, manawi ageng : karaos sebab, yen celaka karaos kemba, yen panyjangka raos sakit, dene manawi cekapanan ageng sarta panyjangipun sanajan wanita sanged karaos sekeca, nanging inggih boten saged karaos lega. Dene cumbana ingkang ngantos dangu wekdalipun manawi priya dereng widagda aji asmara gama punika malah adamel anyel manahing wanita.
Wonten sarjana ingkang kagungan pamanggih, manawi citra tuwin saniranipun wanita punika perang pinten-pinten warni, wonten namanipun piyambak-piyambak punika manawi sinanggana inggih wonten kawruhipun piyambak-piyambak anggenipun ambukani (miwiti) nglebetaken pasta purusa, amrih enggal kabuka rahsanipun, nanging bab punika kajawi angel anggenipun mastani utawi andunungaken selehipun satunggal-tunggaling citra wau, tuwin sagedipun apal patrapipun miwiti, sayektosipun patrapipun wau inggih namung sakedhik sanget bedanipun kaliyan ingkang sampun kajarwa ing nginggil, bakunipun patraping sanggama punika namung kedah amuriha keri prasaning wanita, makaten salajengipun ngantos wanita mudhar prasa, ing ngriku priya kedah waspada ing semu, duk kala wanita badhe mudhar prasa wau, pasta purusa bedah ragi sineru sendha dedelipun, manawi wanita sampun mundhar prasa, priya anyrengana ngedalaken kama, pasta purusa katetepna ngantos pokipun dumugi ing kuwuping parji tuwin sirahipun dumugi ing lesaning pranakan lajeng kinendelan ing ngangosokipun, ing ngriku pucuking pasta purusa karaos kados dipun ameti ing lambe keyong, inggih punika wiwaraning wanita angepuh kamaning priya, manawi kaleresan wahyaning mongso kalasang wanudya lajeng saged anggarbini. Adatipun sakaliyan senggoring napas saderengana sarta mawi gonda ambeting hawa arum angambar pindha ganda sekar melathi ingkang dhedheng ambabar sari, mretandhani tumruning cahya adi mulya dhateng guwa garbaning wanita alantaran priya.
Para jajaka purun ingkang kirang seserepan sami mastani lesaning pranakan ingkang warninipun kados silit ayam punika ; kenthos sarta sami nginten manawi punika dununging prasanipun papesti. Mila manawi cumbana ngarah sagedipun sirah ing pasta purusa tansah nyenggol ing lenging pranakan wau sarana dipun tetep-tetepaken, panginten punika boten leres, awit lenging pranuakan punika manawi kapetel pawestri karaos pegel kirang sakeca, nanging manawi wanita pinuju mudar prasa monga lenging pranakan wau kapetel ing sirah ing pasta purusa (dipun tetepaken) punika wanita karaos marem sanget, lega, tuwuk, anggeripun boten keseron ing pametelipun.
Wonten malih sarjana ingkang kagungan pamanggih, manawi wanyci wiwitipun wudharing asmara gama tumrap wanita punika boten sami, miturut beda-bedaning kukulitanipun wanita. Nanging beda ning wanyci wau boten kathah kaotipun, namung jam-jaman sedaya wanyci dalu. Panycen prayoginipun cumbana punika inggih wanyci dalu, kiwa tengenipun tengah dalu ngantos dumugi bangun enyjing, awit ing wanyci mau kajawi sirep tiyang, kawontenanipun wiji: pinuju pupul manawi dados putra wahanipun badhe kandel wawatekanipun, manawi wanyai siyang kawontenanipun, manawi wanyci siyang dening soroting suryo, manawi dados putra wahannaipun tipis wawatekanipun. Ing sederengipun cumbana utaminipun sampung ngantos sare rumiyin ing sakalih-kalihipun.

V
Ngagem Aji Asmara Gama Kedah Mawi Lampah: Catur Brata

Sadaya ngelmu punika katarimahipun kedah dipun rangkepi laku (lampah), makate ugi ngelmi asmara gama punika inggih kedah mawi lampah. Dene lampahipun wonten kawan prakawis (catur brata) kados ing ngandap punika :
1 : Lila, inggih punika lila dhateng kalong-longan, tegesipun nuruti sapa nedhanipun estri.
2 : Narima, inggih punika narimah dhateng laladosan tuwin cawisanipun estri.
3 : Temen, tegesipun boten remen cidra, anuo lena ing patembayan.
4 : Sabar, tegesipun boten sugih duka, para apura ing kalepataning wanita.
Lampah kawan prakawis ing nginggil punika manawi katarimah, saged amewahi dayanipun aji asmara gama, inggih punika wanita saged kadunungan tresna, mantep, sregep, tumemen nguja sakarsaning priya.
VI
Rubedaning Cumbana Sarta Pambengkasipun

Ingkang prelu kedah sami dipun engeti, manawi badhe nindakaken sacumbana punika : panggalih kedah sabar, saronta, sampun daya-daya lumaksana, angentosana manawi sang pasta purusa sampun kiyat kiyeng, santosa. Manawi dereng kiyat santosa saestu, mongka lajeng sineru lumaksana, punika asring ambalenyjani neng wiwara, panggalihing priya dereng lega, sang wanite dereng mudhar prasa, kesaru wiyosipun sang hyang kamejaya. Ingkang makaten punika, kajawi priya piyambak manggih cuwa, inggih cinedaka batosan dening wanita, amargi tiwas karaya-raya wawadi binuka, tibakipun boya montra kadamel lega, malah manggih gela, cuwa. Kacariyos wanita ingkang sampun karaos keri murinding mongka dereng ngantos mudhar prasa lajeng dipun sampuni, punika kajawi cuwa sanget manahipun inggih karaos pegel boyokipun ngantos pinten-pinten jam dangunipun, arata, rak mesakaken.
Kathah para mudha sami remen ngangge jampi awarni galepungan utawi lisah wonteng ing pasta purasanipun, supados kuwawi sacumbana dangu, punika saking pamanggih kuloa kirang prayogi, awit danguning cumbana wau lajeng boten timbang kaliyan kikiyataning sarira, liripun manawi sarira ringkih mongka lajeng sinengka kangge cumbana dangu : jalanan ngangge jampi wau, punika ngrisakaken sarira, tur terkadhang jampinipun wau inggih dereng katenan manawi boteh mawi dat ingkang rang prayogi tumrap kasaraning sarira. Punapa malih danguning wanyci wau inggih dereng mesthi damel renanning manahipun wanita. Pawestri manawi sinanggama ing kakung ingkang dereng lebda dhateng aji asmara gama, danguning wanyci wau malah adamel sakit, sanajan sinanggama apinten-pinten jam dangunipun. Wanita angel sagedipun mudhar prasa, (ngedalaken rah sapita), malah wewah anyelipun, sukani renaning wanita punika boten saking danguning wanyci, inggih punika sidagda ngulah ing sanggama tuwin waskitha mawas kedhep liringing netra, inggih punika ingkang kawastanan kakung undhagi aji asmara gama. Mila para mudha boten prayogi ngagem jampi-jampi kasebut nginggil.
Dene sarana ingkang prayogi punika inggih sabar, sareh, boten daya-daya punika wau. Sarta panggalih kedah ening, bening, awas, eling, pikantukipun :
• Eneng, adamel dangu wedaling rahsa, angandelaken wiji, manawi dados putra badhe panyjang yuswanipun.
• Ening, saged karaos nikmat manpangat, ambeningaken wiji, manawi dados putra badhe kadunungan watek guna, kawasa.
• Awas, saged priksa ulat liring wanita tuwin awon saening wiji.
• Eling, enget dhateng wawadosipun wanita tuwin enget amrenah wiji ingkang awon.
Samangke nerangaken rubedaning cumbana. Menggah rubedaning cumabana punika wonten pinten-pinten bab kados ing ngandhap punika :
1 : Manawi sariraning priya saged kataman ing arip, sakit, luwe, tuwin susah. Milanipun manawi priya saweg kapan dukkan ing rubeda kawan prakawis wau inggih prayogi sampun nindakaken sacumbana.
2 : Manawi priya cumbana kaliyan wanita ingkang prasaning rahsa boten tunggil bongsa. Kados tamanawi lalawalen kayiyan wanita wredadha, satemah panggalih kapandukan ing raos engah, gela, cuwa, kemba. Manawi tawanan kaliyan wanita ingkang kuciwa ing warni, penggalih lajeng kataman ing raos ewa, merang. Menawi lawanan kaliyan estri ingkang awon snget gandanipun satemah panggalih kadunungan raos neg, geg, geg mila prayoginipun priya milih wanita kagem garwa punika ingkang ngatis-atos, kedah ingkang nunggil bongsa prasaning rahsa wau.
3 : Manawi priya boten kapadhaning karsa ing salebeting cumbana. Mila prayoginipun priya sampung grusa-grusu : cumbana sarana roda paksa, pangarih-arihipun den aririh, pamilutnipun den mamalat prana, rinungruma ing sabda rum sampun ngantos purunipun saresmi wanita wau namung jalaran ajrih ing pameksa sasaminipun kedah sarana seneng parenging panggalih.
4 : Manawi pasta purusa dereng kiyat santosa lajeng sineru lumaksana, kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil, mila prayoginipun manawi pasta purusa wau dereng kiyat saestu, sampun ngantos katindakna sacumbana rumiyin poma den sabar.
Menggah rubeda wdangka : punika panycen kerep sanget dipun alami dening para mudha ingkang kirang sabarana, menawi priya kotaman ing rubeda wau, panulakipun makaten : kados ingkang kasebut ing bab patraping cumbana manawi priya badhe kelayu mudhar prasa. Ing salebetipun kendel wau priya kedah amumulya kridha, tegesipun amumulih gagas, osik, anggelengna prasa tuwin rahsa. Manawi katarimah, sapandurat kemawon, prasa tuwin rahsa wau saged gumeleng satemah lajeng saged tumdik malih ingkang tan sangsaya, nanging tinimbang makaten inggih prayogi ingkang sabar punika wau.

VII
Pangruktining Sarira

Wonten sarjana ingkang kagunggan pamanggih, para priya ingkang menataken aji asmara gama punika prelu sanget dhahar : dhadhaharan utawi jampi ingkang gadhahi daya benter tumraping sarira, kadosta : ulam menda mawi bumbu marica pala, tigan ayam mawi madu tuwin marica, sasaminipun, utawi malih kathah para mudha ingkang sami remen ngunyjuk jampi bangsanipun arak supados kiyat, punika wau sadaya menggahing kula ingging kirang condhong awit dhadhaharan utawi jampi ingkang kapratelakaken wau, dayanipun ingkang ageng namung prakawis kiyating sanggama serta ngindhakaken raos kepengin cumbana, tundonipun lajeng dados kakung ingkang baranycah karem dhateng cumbana; satemah adamel risaking sarira, prasasat anggege pejah, jalaran kama punika kadadosan saking sari-sari saking otot ingkang alus-alus miwah sungsum, milanipun priya ingkang sanget karem ilah langenning asmara punika adatipun sok kataman ing sasakit ngethok, ngeres, linu, pegel suda paningal, sasaminipun sarta inggih kenging kawastanan ngecer-ecer satwa mani maya, wiji badhening manungsa, ingkang tamtu badhe angsal bebendu saking ingkang maha kuwasa. Kacariyos cumbana punika prayoginipun kerep-kerepipun ing salebetipun saminggu namung sapisan langkung saking saminggu saya prayogi.
Dene ingkang prelu kedah dipun jagi punika bab kasarasaning sarira, sarananipun resikan sampun tumandang ingkang sarwa nyengka, (langkung saking ukuran) tuwin adhahar dhadhaharan ingkang prayogi tumrap sarira, kadosta : peresan lembu, tigan ayam, sekul saking uwos ingkang taksih wuluh, kacang ijem, sayur-sayuran, sapanunggilanipun, bab punika para nupiksa tamtu boten kakilapan, manawi karsa ajajampi jawi, para sepuh paring piwulang, kacariyos lempuyang punika saged nuntumaken urat-urat ingkang lumempit uwi katilap, dene unyjuk-unyjukan ingkang prayogi punika : bonggoling nampu. Kaabennan oyoding lempuyang, oyoding kunir, oyodhing sedhah, oyoding rumput teki tuwin oyoding nampu punika carub dados satunggal kagodhog ing toya ingkang ngantos tanah, toyanipun kakantunaken sapalihipun.
Sadaya ingkang saged ngindhakaken raos kapengin saresmi punika saking pamanggih kula malah prayogi sanget dipun singkirna ing sawatawis, kadusta kakathahen wungu, kakathahen eses, (udud), ngunyjuk kopi kakathahen dhahar lombok, sasaminipun ingkang adamel benter raosing sarira.
Pasta purusa ingkang waras wiris punika saking pamanah kula boten prayogi dipun rekadaya : dipun unyjuki jampi-jampi ingkang murugaken kirang kiyet, kuwawi saresmi dangu. Awit dedehiyenging pasta purusa tuwin danguning wanyei cumbana punika ingkang saged damel lega rahsaning wanita, manawi priya dereng saged susilaning sanggama. Ingkang murba wisesa anggenipun maringi gawuhan saranduning angga kita tamtu sampun mawi ukuran kikiyaran ingkang timbang kaliyan pigunanipun, amurih kiyating pasta purusa tuwin danguning cumbana, boten wonten sarana malih ingkang prayogi, mikantuki, kajawi namung saking sabaring panggalih punika wau.
Dene ingkang prelu tumrap para mudha punika namung sampun ngantos tumindak utawi dhahar dhaharan ingkang saged ngendhokaken pasta purusa, kadosta : kelan terong, eses mawi, uwur kalembak pucuk, sapanunggilanipun, sampun lenggah ing papan asrep andhodhok kedangon, malumpat wiyar, sadaya punika saged ngendhokkaken purus.
Nanging manawi priya panycen kataman ing sakit kirang kiyat pasta purusanipun inggih punika peluh utawi melur, punika inggih prayogi dipun jampeni ing saperlunipun, adatipun priya ingkang kataman sasakit makaten punika, manawi boten kenging alangan sanesipun, jalaranipun saking karen asmara ingkang ngantos langkung saking taker. Jampinipun : kedah cegah sanggama rumiyin ngantos samantunipun pungu sarta siram saben enyjing, ebah ing sarira ingkang ajeg, dhahar dhadhahran ingkang sarwa empuk sarta andamel kiyat tumraping sarira, wosipun sarira kaliyan panggalih kedah tansah dipun seseger. Ingkang langkung prayogi inggih punika nyuwun pitulunganipun dhokter tuwin mituhu ing sapitedahipun.


VIII
Tumuruning Wiji Ingkang Winadi

Kacariyos malebetipun wiji punika anyarengi lebeting napasipun bapa, Nunten umineb wonten ing utek lajeng rembes dhateng panon, inggih punika sarining utek ingkang manggen wonten salebeting menika, wiji ing sasampunipun wonten ing ngriku kawawa manuksama ing pramana, sarta kawawa amor sarasa, rasaning pramana andayani saeka karsa, nunten anarik daya serening sacumbana. Punika saged mewah munycaring pangeksi, dene manawi linantur dados batur, laripun saged mahanani putra.
Menggah badhe kadadosanipun putra wau ing tembenipun punika manut empaning cipta sarta urubing pramana wau. Awit duk kala wau wiji sumusup ing pramana lajeng nunggil urubing pramana, punika upami tetedan : sagreneking ciptanipun wau minangka bumbu, urubing pramananipun minangka bau. Bumbu manawi sampun kulet ing bau, raosipun lajeng kempal, dene matengipun kadah wonten ing pabrik ingkang sakalangkung premati, dumuning guwa garbaning rena. Kawastanan yitna maya.
Tanda yektinipun manawi kadadosaning putra wau miturut empan tanycebing cipta nalika sami sacumbana pupu kiran utawi wawatekaning putra punika ingkang kathah memper kaliyan yayah renanipun, jalaran ing nalika papasihan wau tanycebing cipta ing sakalih-kalihipun sami kadunungan welad tuwin tresna. Nanging terkadhang pupu kiran utawi wawatekaning putra wau memper kaliyan kaki nini, sanak sadherek, tiyang ingkang sanget dipun tresnani utawi sanget dipun gethingi ing yayah renanipun. Punika sababipun inggih saking tanycebing ciptanipun yayah rena duk kala saresmi wau saweg tumuju dhateng kaki nini, sanak sadherek tiyang ingkang dipun tresnani utawi dipun gethingi wau. Milanipun manawi sami cumbana kaliyan garwa dipun ngatos-atos, sampun ngantos kaselanan cipta ingkang badhe mahanani kirang prayogi kadadosanipun, leres sanget para sepuh sami paring wasita wanti-wanti dhateng putra wayah : manawi mentas saking kekesahan, ngabotohan, kaget, gumun, sasaminipun sampun ngantos cumbana kaliyan garwa, ingkang dipun kawekani : bok menawi ing salebetipun sacumbana lajeng kagagas punapa ingkang mentos dipun sipati kala wau.
Bab wahananing wiji miturut daya tanycebing cipta punika, mila boten aneh manawi putranipu sujanma ingkang hambek panandhita wonten ingkang boten dados abahan, anakipun tiyang ingkang karem lampah maksiyat dados tiyang ingkang utami. Awit sang hambek pinandhita wau duk kala saresmi kaliyan garwanipun, bok manawi saweg kaselanan cipta ingkang adi. Inggih punika lenggahipun babasan : bangsa punika madosi bangsanipun (soort zoekt soort). Nanging menggah lalampahanipun sang hambek pinandhita kaliyan tiyang ingkang krempah maksiyat mau punika kenging kawatanan saweg kawinujan utawi dumadakan (nyebal). Manawi adatipun: tiyang ingkang kulina ulah puja brata punika yekti kathah kaengetanipun, tanycebing ciptanipun inggih kerep cipta ingkang utami. Tiyang ingkang remen lampah maksiyatan punika tanycebing ciptanipun inggih kerep cipta ingkang kirang prayogi wusana dadosipun putra inggih sami mirib kaliyan tiyang sepuhipun, babasanipun : kacang boten nilar lanyjaranipun.
Wonten malih katrangan bab dayaning cipta ing salebetipun sacumban, kacariyosaken makaten : manawi nalika sacumban punika serenging priya dumunung wonten ing priya, punika manawi ngleresi wahyaning mangsa kala saged dados putra, badhe mahanani putra estri amargi serenging driya wau prasasat anyipta putri ingkang endah ing warni. Kosok wangsulipun manawi dados putra mahanani putra kakung ingkang kathah-kathah, bapa punika tresna dhateng anak estri, biyung kathah tresnanipun dhateng anak jaler,biuyng ingkang nyipta anak jaler punika wau.
Ing serat widya kirana (*) amratelakaken miturut suraosipun serat jitab sara, karanganipun balawan palasara ing wukir martawu, bab wijanganing wiji punika kados ing ngandhap punika :
Manawi wiji wujudipun kandel, ing tembe badhe mahanani putra kandel manahipun, manawi tipis inggih tipis manahipun, yen wiji wau ageng, mahanani budi jembar, yen alit yekti rupah budinipun, inggih wiji wau many corong, badhe mahanani budi ayeman, bilih besem inggih badhe mahanani watak sungkawan.
Manawi cumbana ing wanyci siyang, ingkang tamtu wiji wau tipis amargi pramana nedhengipun amer, yen wanyci dalu kandel amargi pramana nedhengipun pupul, mila utaminipun cumbana punika ing wanyci akiring dalu dumugi bangun enyjing.
Bab wahananing wiji miturut dhateng ingkang andarbeni daya panggendeng, kapratelakaken kados ing ngandhap punika :
Manusa ingkang saweg tuwuh tanycebing cipta welas asih, ingkang tamtu urubing pramana warni pethak sumirat biru amaya-maya, mong kalajeng kataman eneng, punika lajeng kawama narik wiji, ingkang sumusup inggih sami kaliyan urubing pramana wau, ing tembe manawi mahanani putra : sarwa jatmika, alus kabudayanipun asih welasan ananging kirang panggraitanipun.
Manawi manungsa saweg katuwuhan tanycebing cipta : rila, legawa, murubing pramana tuwin wiji warni jene sumirat ijem ing tembe badhe mahanani putra berbudi, lantip pangraitanipun kajen sasamining tumitah.
Manawi tanycebing cipta pinuju mardika budayan kurubing pramananipun tuwin wiji : abrit ambaranang, ing tembe manawi mahanani putra : limpad pasanging panggraita, wasis ing pamicara sarta emutan ananging augetan manah.
Manawi manungsa saweg tuwuh tanycebing cipta runtik sapanunggilanipun ingkang tamtu urubing pramana tuwin wiji warni cemeng meles ing tembe manawi mahanani putra, santosa dhateng kaawonan panas baranan tur bodho dhateng kabudayan.
Manawi saweg tuwuh tanycebing cipta methuthuk gumunggung, rumaos kaleresan sasolah bawanipun urubing pramana tuwin wiji : biru muyeg sumirat amarakata, badhe mahanani putra sae manahipun sarta andarbeni karilan ananging sanget bodho.
Manawi saweg tuwuhan tanycebing cipta drengki, urubing pramana tuwin wiji warni wungu sumirat ing tembe badhe mahanani putra andaluya, dora ing pamacara, remen pandamel ngiwa, asring benging sasakit gendheng tuwin wuta.
Manawi saweg tuwuh tanycebing cipta tarima, urubing pramana tuwin wiji : ijem ungunguwung, ing tembe manawi mahanani putra hambek apura paramarta, rila, terima, legawa.
Manawi sujana makulina nungku puja brata aish sasamining dumadi, hambek paramarta, temen narima, ingkang tamtu urubing pramana tuwin wiji warni ijem nem munycar maya-maya, ing tembe menawi mahanani putra : wicaksana, lepasing pambudi langkung saking sasaminipun manungsa, saged mengku darajat ageng.
Sarehning wiji punika bangsanipun alus dados saged dipun priksa inggih kedah sarana alusing pandulu, inggih punika saking eninging panggalih, sirnaning karsa, sarehing panggonda, lereming ponyca driya, jatmikaning solah bawa.
Ing ngajeng ugi sampun kapratelakaken ing salebeting sacumbana punika panggalih kedah eneng, ening, awas, eling. Pikantukipun. Eneng : adamel dangu wedaling rahsa tuwin ngandelaken wiji. Ening : saged karaos nikmat manpangat tuwin ambeningaken wiji. Awas : saged pariksa awon saenipun wiji ingkang wekdal punika. Eling : inggih punika enget amrenahaken wiji ingkang sae utawi nglebur wiji ingkang awon, manawi wiji ingkang sumusup wau sae, kaprenahna punapa samesthinipun, sagedipun katampen ing lenging pranakan, manawi wiji ingkang sumusup wau awon, kedah kalebur sarana santosa, sampun ngantos korup wuruti sengseming karsa, inggih punika kedah kasilipaken mangandhap utawi manginggil utawi kawutahaken wonten ing jawi kemawon, wosipun sampun ngantos kamaning priya wau katampen lenging pranakan .(*)


IX
Panunggilanipun Aji Asmara Gama

Aji asmara gama punika wonten panunggilanipun pinten-pinten samara, pararawung kridha sami yasa nama piyambak-piyambak, ing ngandhap punika katerangaken namung ingkang kamanah prelu-prelu kemawon :

Asmara Sabda
Asmara tegesipun : sangsem, sabda : pangandika. Pikajengipun sangsem masa pocapana utawi sengsem dening dayaning pangandika.
Ing ngajeng sampun kacariosaken priya dhateng wanita ingkang pinurih tresnanipun punika kedah angempakna tembung manis manuhara. Pamilutanipun ingkang saged anuju prana, pangalembananipun ingkang saged anuju prana. Ing saderengipun wiwit nandukaken sabda arum manis wau, priya mawi amaos samantranipun aji asmara sabda ing salebeting batos makaten :
“Hong hyang-hyang kamajaya dumareng karasihan surap sareng asmara, acaneng ulun lumarapa, makecep ring wanita ika, sing dayeng aji asmara sabda, myang wiseseng paduka”.
Aji asmara sabda wau manawi katarimah saged ambuka sengseming wanudya satemah kadunungan monah asih tresna, pikantukipun anggampilaken tumindakipun asmara gama.
Ing serat piwulang paniti sastra, gagabahanipun balawan palasana, ingkang sampun kajarwakaken dening sang prasu jaya saya, ing bab 3, nyebutaken makaten : yen wonten ngarsanipun mengsah umuka ing sabarang damel yen wonten ngarsanipun pandhita angraosa sanarahsaning ngelmituwin kawruh, yen dhateng pawestri angungruma pangandika ingkang akarya asmaraning galoh.

Asmara Cipta
Asamara tegesipun : sengsem, cipta inggih cipta utawi osiking manah. Pikajengipun : sengsema cipta nira utawi sengsema dening dayaning cipta.
Ing bab patraping cumbana sampun kapratelakaken sakedhik bab aji asmara cipta, inggih punika nalikanipun sacumbana, priya anggelengna cipta ! angalapa pamanah tuwin nyawanipun estri. Aji asmara cipta ingkang makaten wau, manawi katarimah, wanita saged karaos marem terusing manah, awit boten namung kalegan dening patrap pangulah ing sanggama kemawon sayektosipun kalegan rahsanipun sajati. Asmara cipta ingkang kasebut ing nginggil punika boten ngangge waosan montra, awit sampun kawengwu ing montra asmara gama.
Aji asmara cipta punika ugi saged kangge sarana ngangkah pawestri (pangasihan) lampahipun makaten :
Priya kedah anyirik kasanggama tuwin asisirih ing sakeparengipun (ngingirangi dhahar nendra) minongka lampah. Dangunipun pitung dinten pitung dalu, saya dangu malih saya utami, upaminipun 40 dinten 40 dalu.
Manawi ing dalunipun badhe matrapaken asmara cipta wau, priya susuciya rumiyin wiwit sonten sampun ngantos sare. Ing wanyci tengah dulu lajeng lenggaha, sarira kasendhekna, patrapipun kados lenggah semedi. Ingt ngriku tumunten angenina paningal amepeta panyca driya, pamirsa, panggonda, pamiyarsa, pangraos tuwin pamiraos, lajeng anyiptaa ; mujudaken warnining wanodya ingkang kaangkah wau, yen sampun wujud saluguning warni, lajeng sinanggamaa saking empaning cipta kemawon sinartan maos montra makaten :
“Hong hyang-hyang kamajaya dumareng karasikan surap sareng asmara, soteng ulun lumarapa, makecep ring wanita ika, sing dayeng aji asmara cipta, myang wiseseng paduka”.
Manwi sampun widagda sayektos anggenipun matrapaken adat ingkang sampun kalampahan wanita ingkang kaangkah wau lajeng cupen kados sinanggama ing kakung ingkang nyipta wau, satemah lajeng nandhang wiyoga (gandrung), saking sangeting wiyoga ngantos mentala mahnyakaken raosing priya (marahi), tarbadhang tan saronta lajeng dateng nginggah-inggahi.
Nanging, para mudha kedah enget ; manawi wanita wau manahipun resik suci, asahli puja brata, punika asmara ciptaning priya wau boten saged tumama, awit kawon prabawa kaliyan kasuciyanipun wau, satemah uwuk tanpa dadnya, malah wangsulipun cipta ingkang lumepas wau saged andadosaken kirang prayogi tumrap ingkang anggadahi cipta, milanipun sampun agahan nindakaken asmara cipta.

Asmara wanita
Asmara tegesipun : sengsem, wanita : pawestri, pikajengipun : sengsemipun dening wawadining pawestri sampun kasumerepan.
Menggah asmara wanita punika pigunanipun inggih kalih warni, inggih punika kangge ambuho rahsaning wanita kaliyan kangge pangasihan.
Kacariyos rahsaning wanita punika boten ngemungaken dumunung ing boga kemawon sayektosipun wonten ing saranduning badan sadaya, saben sadinten sadahu aliyan, patrapipun priya nindakaken asmara wanita punika kados nindakaken asmara cipta, nanging pawestri kedah katingal kasat mata. Sanajan pawestri pinuju sareyan lenggah, lumampah, ugi kenging katindakaken patrapipun makaten : priya angeningna cipta, amepeta panyca driya, amegenga rahsaning sanggama, nunten rahsaning sanggama wau katarika lajeng katanycebna wonten ing cipta, manawi sampun boten eweh, lajeng katarika malih katanycebna wonten ing panon manawi sampun boten ewah malih lajeng kalepasna dhateng pundi saranduning badanipun wanita ingkang pinuju kadunungan rahsa, sinarengana maos montra makaten :
“Hong hyang-hyang kamajaya dumareng karasikan surap sareng asmara, kang wanita rumarasa, kataman kanang rahsa mulya, sing dayeng aji asmara wanita, myang wisesang paduka”.
Manawi sampun widagda anggenipun nindakaken wanita ingkang kalepasan wau lajeng kaget anyjingkat sanajan pinuju tilem kepati inggih meksa saged ngalilir, sarta gadhah raos kados sinanggama. Estri ingkang katamanan makaten wau sengsemipun kados dene kataman asmara cipta.
Dene asmara wanita ingkang kangge pambukaning rahsa, paedahing gampilaken tuminokikinh asmara gama, patrapipun nindakaken makaten : duk kaya rahsaning sanggama wau sampun tumanyceb ing cipta, manawi sampun boten ewah, lajeng katarika malih, nanging boten katanyjebaken ing panon inggih punika kadekeka wonten ing pucuking dariji, dariji wau lajeng kagrayangna ing pundi saranduning badanipun wanita ingkang pinuju kaserenan rahsa, sinartan matek montra kados ingkang kajarwa ing nginggil, adat ingkang sampun kalampahan wanita ingkang kagrayang wau raosipun kados sampun sinanggama, sarira gumriming marinding andhandhang minta tandhing, korining sang hyang kamajaya sampun kabuka, satemah anggampilaken tumindaking asmara gama.
Menggah dununging rahsaning wanita ingkang saben sadinten sadalu aliyan punika pratelanipun makaten : tanggal 1 manggen wonten ing pucuking jempol suku ingkang tengen, minggah-minggah dumugi tanggal 15 manggen wonten ing tengahing alis ugi ingkang tengen nunten tanggal 16 pindhah wonten tengahing alis ingkang kiwa, mendhak-mendhak dumugi tanggal 30 wonten ing pucuking jempol suku ingkang kiwa. Tanggal punika tanggal jawi. Terangipun amriksanana gambar ing sisih punika. Supados gampil anggenipun ngapalaken. Kula sekaraken dhandhang gendhis dados tigang pada, nanging dhong dhingipun inggih namung sadhawah-dhawahipun kemawon kados ing ngandhap punika :
* Rahsaning dyah dununging mamanis. Tanggal pisan lawan tingang dasa. Pucuk jempol suku manggen. Kalih lan sangalikur, Neng tengahing tlapakan nenggih, Tiga wolu likurnya, Tengah tungkak suku, Catur pitulikur tengah : ing kemiri : gangsal nemlikur manggyana ing : tengah kempol punika.
* Tanggal nenem lan salawe munggih, pucuk jengku : pitu patlikurnya, tengahing pupu.








sumeren, wolu lan tigalikur, tengah pocong dunungi reki, sanga kalihlikurnya, tengah baganipun, sadasa salikur manggyan, tengah puser : sawelas lan kalih desi, ing tengah payudara.
* Kalihwelas lan sangalas manggih, tengah janggut : tingawlas wolulas, manggen ing tengahing lambe, pat blas pitulasipun, pucuk grana gyaning rahsadi, gangsalwelas nembelas, tengah imba iku, tanggal kang dihin sinebat, apan kanan dekang wuri sisih kering, ye kunut tanggal jawa.

Asmara tontra
Asmara tegesipun : sengsem, tontra : bala, utawi tiyang kathah, pikajengipun : sengsema tiyang kathah punika.
Asmara tontra punika pigunanipun : nyanggama wanita satunggal nanging wanita pinten-pinten ingkang sampun nate sinanggama : saged karaosa sadaya, patrapipun makaten :
Ing salebetipun nyanggama, sasampunipun maos mantranipun aji asmara gama, utawi boten amargi mangke badhe kawengku ing asmara tontra, priya wiwit taangening ngaken cipta anglerem ponyca driya, nunten ana rika rahsaning sanggama, (rahsanipun piyambak) rahsa wau katanycebna wonten ing cipta, nunten anyiptaa : mujudaken warnining wanita sapinten kathahipun ingkang badhe sinung rahsaning sanggama wau. Manawi sampun wujud lagu sajatining warni, kados dene lampahing asmara cipta, lajeng sinanggamaa salung empaning cipta kemawon, dene mantranipun makaten :
“Hong hyang-hyang kamajaya ratih, surap sara surap sari ing asmara, ulun mawisik wanita, matemah yumana kang rahsa, prahasa naring wanita samoa, kanang ulun cipta, sing dayeng aji asmara tontra, myang wiseseng paduka”.
Lajeng angedalna rahsa : inggih rahsanipun pribadi. Katarimanipun aji asmara tontra wau, wanita-wanita ciptan wau saged karao sinanggama ing alam supena sarta marem caremipun ugi tan prabeda kados sinanggama ing sawantahipun, kacariyos raden dananjaya ingkang dados lananging jagad prabu arjuna sasra ingkang garwanipun domas (800), sarta prabu surya misesa ing jenglala manik (panji inu kartapati), punika anggenipun nyarambahi asung rahsa sarta nguja arsaning wanita ugi ngagem aji asmara tontra wau. Walau asalam.

Pungkasaning Atu
Dumugi samanten, pangraos kula sampun cekap pangimpun kula kawruh sanggama punika manawi kula talusur malih, maksudipun aji asmara gama punika, kajawi minongka sarana adamel lega tumraping wanita ing salebetipun cumbana, tuwin pambudidaya sageda kasinungan putra ingkang utama, inggih ugi minongka panggarenda dhateng para mudha, supados sami ngulinakaken angeningaken cipta, amepet panyca driya, analiti sajatining wiji, ingkang dahat sinandi, tuwin wawadining dumadi. Manawi dipun lampihi kanthi temen-temen ingkang tamtu inggih tinemu temenan, nanging manawi panggilutipun sembarangan panindakipun namung kangge mainan, namung kerem dhateng ulah kridhaning saresmi, sayekti inggih malati, angrisakaken jiwa ragi. Mila sadherek kula para mudha ingkang kasdu maos serat punika, dipun waspada uwosing wasita. Pemut kula :
Rasak ele yayah madu brangti, den tamamet uwosing wasita, brata lena mrih pratameng, tata susileng lulut, ketong ngesthi kotameng siwi, salamet mengku garwa, wajibing priyanung, kalamun sisip ciptanta, dhineseking tyas kerem langening resmi, risak jiwangga nira.
TAMAT
Utaminipun para priya amaos serat : ugering palakrama.








Sinten ingkang boten palakrama ?
Punapa prelunipun palakrama ?

Sarehning ngagesang punika ingkang tamtu sampun utawi badhe nglampahi palakrama, mila prelu sanget maos serat.

UGERING PALAKRAMA

Para priyantung ingkang sampun palakrama prelu maos serat punika, ingkang dereng palakrama saya langkung.
Serat wau amarsitakaken prelunipun pala krama, paugeranipun palakrama, sambekalanipun palakrama sarta pambengkasing sambekala wau, paugeraning wanita ingkang sinebut utami, tuwin ngewrat pirasat utawi katuranggining wanita. Punapa dene bab sanes-sanesipun ingkang prelu sanget kasanerepan priyantun kakung putri ingkang sampun utawi dereng nglampahi palakrama. Langkung-langkung priyantun kakung. Basa sarta aksara jawi, ganycaran satunggal baku reginipun.
F ……. pring



Kawedalaken sarta kasade dening :


Ing Kadiri